Ketika membicarakan masakan Italia, kebanyakan orang langsung teringat pada pasta dan pizza. Namun, seorang imigran baru yang telah lama mengelola restoran Italia di Taiwan menyebutkan bahwa kesan tersebut sebenarnya hanya menyentuh sebagian kecil dari keseluruhan budaya kuliner Italia. Baginya, inti dari memasak bukan terletak pada satu jenis hidangan, melainkan pada cara pembuatan dan akumulasi sikap hidup.
Ia menjelaskan bahwa masakan tradisional Italia sangat menekankan proses “buatan tangan”. Dari pembuatan pasta hingga memasak saus, banyak tahapan dilakukan secara manual, menghasilkan tekstur dan cita rasa yang sulit ditiru oleh mesin, sekaligus membuat setiap hidangan memiliki keunikan tersendiri.
Dalam hal bumbu, masakan Italia menonjolkan karakter asli bahan. Baik itu minyak zaitun, tomat, makanan laut, maupun daging, biasanya diolah dengan cara sederhana agar rasa asli menjadi fokus utama. Jarang menggunakan bumbu yang rumit untuk menumpuk rasa, hal ini juga mencerminkan perhatian terhadap kualitas bahan.
Selain itu, ritme makan dari hidangan pembuka, utama hingga penutup dan kopi, juga mencerminkan konsep “slow food” dalam budaya makan Italia. Makan bukan sekadar kebutuhan sehari-hari, tetapi juga merupakan cara untuk berbagi waktu bersama keluarga dan teman.
Seiring meningkatnya pemahaman konsumen terhadap budaya kuliner, pasar pun mulai menghadirkan lebih banyak pilihan. Selain pasta dan pizza yang umum, hidangan utama berbasis daging serta masakan buatan tangan kini semakin mendapat perhatian, memberi kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal lebih lengkap keragaman masakan Italia.
Sumber: Halaman Facebook Il Cibo Giusto budaya x tradisi x kuliner