To the central content area :::
名人專欄-內頁
::: To the bottom Area

Perang Dagang Amerika-China dan Perubahan Struktur Tenaga Kerja Industri di Vietnam

2019-01-24 17:20:00

Kota Hanoi, Vietnam (sumber: dok. istimewa)

Kota Hanoi, Vietnam (sumber: dok. istimewa)

Konflik Perang Dagang antara Amerika dan China selama 6 bulan belakangan ini telah membuat perubahan pola bisnis pengusaha Taiwan di luar negeri. Secara khusus, model bisnis perusahaan Taiwan di luar negeri yang sebelumnya memiliki metode: “Taiwan menerima pesanan, produksi di China, pemasaran di AS” kini harus beradaptasi. Karena di bawah ancaman tingginya tarif pajak, maka pihak pengusaha Taiwan kini mulai memperhitungkan untuk mengalokasikan area produksi yang berada di China. Pihak pengusaha Taiwan pun mulai mendiskusikan dan memberikan perhatian pada lokasi-lokasi yang lebih menguntungkan di Vietnam.

Kelebihan Vietnam

Jika sebelumnya Ho Chi Minh merupakan area konsentrasi para pengusaha Taiwan, kini area utara Vietnam juga mulai diperhatikan dan menjadi pilihan bagi pabrik-pabrik Taiwan yang terkait dengan teknologi, dimana hal ini terjadi juga karena adanya Perang Dagang. Beberapa alasan lainnya adalah:

  1. Pemerintah Vietnam saat ini sedang mengupayakan keseimbangan pembangunan ekonomi antara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan. Beberapa tahun belakangan ini, Vietnam Utara sedang didesain untuk menjadi “zona iptek berkualitas” dalam proyek-proyek investasi penting. Vietnam sedang mengatur proyek pengembangan industri elektronik dan industri berteknologi tinggi; dengan slogan “Vietnam manufaktur 2020”, Vietnam juga ingin maju dan menjadi negara manufaktur besar.
  2. Sebagian besar pihak manufaktur masih mempertimbangkan biaya tenaga kerja, termasuk jika Anda masuk dalam asuransi sosial serta menghitung berbagai pengeluaran. Saat ini, biaya tenaga kerja di Vietnam hanya 30% dari pekerja di Taiwan dan 50% atau setengah dari biaya di China. Hari Sabtu di Vietnam juga terhitung sebagai hari kerja, dengan hari libur nasional yang lebih sedikit jika dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Dengan begitu, dalam waktu 1 tahun, setidaknya ada tambahan waktu kerja 2 bulan di Vietnam, tentunya hal ini merupakan produktivitas yang paling disukai oleh pihak manufaktur.
  3. Daerah utara Vietnam, kontrol sosialnya lebih ketat, karena itu perselisihan mengenai masalah perburuhan lebih mudah dikendalikan atau ditangani.
  4. Memperhitungkan kelebihan dalam hal geografis, terutamanya di daerah Vietnam Utara, berbagai bahan baku dan barang-barang yang relevan juga dapat dengan mudah didapatkan atau didistribusikan ke area “Pearl River Delta” yang dapat ditempuh hanya dalam waktu 1 hari perjalanan dari darat, dan “Yangtze River Delta Economic Zone” yang dapat ditempuh dalam waktu 3 hari.
  5. Bagi vendor yang sensitive dengan biaya, maka pihak pengusaha pun optimis dengan “Perjanjian Kerjasama Perdagangan Asing Vietnam” (Vietnam’s Foreign Trade Agreement), dimana selain menjadi bagian dari ASEAN Economic Community (AEC), Vietnam juga baru-baru ini telah menandatangani perjanjian “Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership” (CPTPP), serta menjalin perjanjian kerjasama perdagangan bebas dengan Uni Eropa yang mulai berlaku tahun ini. Hal-hal inilah yang menjadi alasan penting mengapa Vietnam memiliki banyak kelebihan jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya.

Ho Chi Minh, kota terbesar di Vietnam (sumber: dok. istimewa)

Ho Chi Minh, kota terbesar di Vietnam (sumber: dok. istimewa)

Transfer industri Taiwan tak dapat dielakkan

Sebagian besar investasi pengusaha Taiwan di Vietnam terkonsentrasi di Vietnam Selatan. Di saat yang sama, sebagian besar berkecimpung dalam industri manufaktur metal dan industri tekstil. Kini, dengan adanya Perang Dagang, pihak-pihak industri yang melakukan kunjungan ke Vietnam pun semakin meningkat, mempertimbangkan peningkatan investasi dalam industri elektronik dan teknologi.

Jika dibandingkan dengan pelaku industri elektronik Taiwan, pelaku industri Jepang telah melangkah lebih dulu, setelah banjir besar yang melanda Thailand pada tahun 2014, pihak Jepang pun pindah haluan dan berinvestasi di Vietnam dengan waktu persiapan dan penilaian selama 2 tahun. Sementara Korea Selatan yang telah menjadi “kepala naga” dalam kepemimpinan industri pun telah masuk ke Vietnam dengan penempatan pabrik LG di Haiphong dan penempatan produksi Samsung di Ninh Binh. Seluruh produsen ini bernegosiasi langsung dengan distributor dalam negeri Vietnam (produksi lokal). Terkait dengan keadaan saat ini dimana Perang Dagang terjadi, maka waktu penilaian investasi di luar negeri pun semakin sempit. Banyak di antara mereka yang berharap agar dapat mencari dan menyelesaikan penilaian untuk produksi hanya dalam waktu 1 tahun. Dengan meningkatnya permintaan tanah secara cepat, harga sewa di kawasan industri pun kini semakin meningkat.

Bagi Jepang ataupun Korea Selatan, berinvestasi di China ataupun Vietnam, semuanya tetap berarti “di luar negeri/negara asing”. Dalam pemikiran manajemen dan budaya, hal ini dapat disesuaikan sebelum melakukan penetapan pabrik. Pihak Korea Setalan telah menyiapkan pusat pelatihan bagi para karyawan di Taiyuan dan Bac Ninh. Dalam hal ketenagakerjaan di luar negeri, pihak pemerintah Korea juga mendorong agar seluruh keluarga ikut bermigrasi ke tempat kerja baru, dengan maksud agar permintaan idustri pelayanan di sekitarnya juga dapat tergerak dan turut mendorong vitalitas ekonomi di sekitar areal industri tersebut. Pabrik-pabrik Taiwan yang sebelumnya berada di China dan kini akan berpindah haluan ke Vietnam terbatasi dengan pengalaman mereka saat berada di China dulu, sehingga biaya pelatihan manajemen yang baru dipastikan akan meningkat cukup pesat.

Bagaimanapun, beberapa pihak manufaktur juga menyatakan bahwa dengan meningkatnya perusahaan-perusahaan China, pengusaha Taiwan telah kehilangan banyak langkah preferensial dan tidak mungkin bersaing dengan perusahaan China yang dilindungi oleh pemerintah. Kini, ada lebih banyak perusahaan yang memiliki ide untuk memindahkan basis produksinya, dan perusahaan-perusahaan Taiwan juga ingin melakukan “transfer pemindahan” karena adanya keadaan darurat Perang Dagang, “hal ini pasti akan menjadi pilihan, hanya tinggal waktu saja.”

Pasar modern baru di Kota Ho Chi Minh (sumber: dok. istimewa)

Pasar modern baru di Kota Ho Chi Minh (sumber: dok. istimewa)

Mobilitas industri dan perubahan struktur industri Vietnam

Dengan adanya migrasi gelombang raksasa teknologi saat ini, dimana ribuan orang telah direkrut, tentunya membuat struktur sumber daya manusia (SDM) di Vietnam telah banyak berubah. Di beberapa area industri, masalah kekurangan tenaga kerja dan pergantian karyawan telah mulai dirasakan. Jika dibandingkan dengan industri tradisional, pabrik teknologi yang mampu menghadirkan lingkungan kerja yang lebih baik akan menarik lebih banyak tenaga kerja.

Bagi pihak pabrik industri tradisional Taiwan yang telah masuk ke Vietnam, mereka harus memelihara hubungan kerja “meningkatkan upah” dan dengan cara mengatur “manajemen emosional”; berdasarkan hasil observasi lapangan dari penulis, masuknya pabrik-pabrik teknologi besar membuat perusahaan-perusahaan kecil Taiwan mulai memilikirkan untuk memindahkan usaha mereka ke propinsi-propinsi yang memiliki upah relatif lebih kecil (perbatasan barat laut dan daerah tengah), sehingga secara tidak langsung juga turut mempromosikan pertumbuhan ekonomi dari investasi asing di Vietnam.

Agensi tenaga kerja Vietnam juga mengatakan, saat ini tidak mudah merekrut tenaga kerja di dalam negeri. Beberapa tahun ini, mencari tenaga kerja yang ingin bekerja di Taiwan juga tidak mudah, harus merekrut calon para tenaga kerja dari Vietnam Tengah atau yang berada area pedesaan dan terpencil. Selain faktor-faktor yang telah disebutkan di atas, kebijakan Jepang yang kini juga membuka keran bagi para pekerja migran asing telah membuat para pekerja migran asal Vietnam lebih memilih untuk bekerja di Jepang daripada di Taiwan, sebab lebih menarik.

Kesimpulan

Jika dibandingkan dengan perusahaan kecil dan menengah yang sebelumnya telah berinvestasi lebih dulu di Vietnam, mendiversifikasi risiko ketika berinvestasi di industri teknologi dan industri elektronik sudah menjadi tren jangka panjang, karena diharapkan ketika modal asing masuk ke dalam sebuah area, maka upah tenaga kerja pun dapat meningkat. Sementara dalam proses kontruksi pembangunan pabrik, pihak pemilik modal telah memikirkan “otomatisasi produksi” untuk mengurangi upah tenaga kerja. Berdasarkan analisis di atas dan hasil wawancara, penulis pun mengusulkan pengamatan dan saran sebagai berikut:  

  1. Sejalan dengan banyaknya aliran dana investasi asing yang masuk, biaya yang harus dikeluarkan oleh para pengusaha Taiwan untuk masuk ke Vietnam kini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan investasi di masa lampau, sementara pemerintah Vietnam dan para pekerja kini memiliki lebih banyak pilihan industri, tidak seperti di masa lalu yang harus pasrah menerima. Dalam hal kompetisi dengan investor asing yang ingin merekrut para pekerja di Vietnam, perusahaan-perusahaan Taiwan, baik yang lama maupun yang baru harus dapat menyediakan lingkungan kerja yang lebih baik. Jika tidak, mobilitas (pergantian) tenaga kerja yang tidak stabil tentunya tidak dapat dielakkan dapat mengganggu efisiensi produksi; sebab bisnis UMKM tradisional Vietnam yang padat karya, di masa depan juga akan terpengaruh, karena itu harus ditanggapi lebih awal.
  2. Sebagian besar pengusaha Taiwan mengatakan bahwa mereka telah lelah “melanglang buana” dan berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Tempat yang diharapkan menjadi perhentian akhir adalah Vietnam, karenanya otomatisasi pun dapat menjadi strategi penting bagi pebisnis Taiwan di masa depan, sebab hal ini dapat meningkatkan efisiensi produksi dan mengurangi biaya tenaga kerja.
  3. Berdasarkan pengalaman dari para pebisnis Korea Selatan, diperlihatkan bahwa masuknya investasi manufaktur ke sebuah daerah juga turut membawa pembangunan industri pelayanan di sekitarnya. Saat ini, masih belum banyak pihak manufaktur dan pebisnis Taiwan yang mengikuti industri pelayanan dan pemasaran ini. Gelombang baru masuknya perusahaan-perusahaan Taiwan diharapkan dapat meningkatkan permintaan industri pelayanan di area sekitarnya, sehingga mereka yang berbisnis sebagai operator pelayanan di luar negeri pun dapat lebih memperhatikan hal ini.
  4. Berdasarkan pengalaman Thailand di masa lalu, ketika ekonomi dalam negeri meningkat, tenaga kerja yang ingin bekerja di luar negeri pun jumlahnya menyusut; masuknya modal asing dalam skala besar, telah menjadikan Vietnam sebagai salah satu negara manufaktur besar. Di masa depan, apakah para tenaga kerja Vietnam juga akan terpengaruh atau terdampak dengan keinginan untuk bekerja di luar negeri atau tidak seperti Thailand, tentunya juga patut diperhatikan.

Penulis: Dai Wanping (戴萬平)

作者 戴萬平 戴萬平

現任: 正修科技大學 國際企業系 教授、 國立成功大學 東南亞研究中心 研究員、 國立中山大學 東南亞研究中心 研究顧問、 社團法人台灣泰國文化交流協會 常務理事、 社團法人高雄東南亞產學協會 理事、 社團法人台灣東南亞學會 候補理事。 喜歡從東協的角度看東協,對東南亞國家產業政策、政治經濟發展有興趣。 書唸得不多所以不喜歡批判,相信田野調查才是理解東南亞在地知識的基礎。 最愛走進東協小鎮散步。會入神到不小心看到緬甸的鴉片交易、騎車路過峇里島的非法鬥雞賭場,也傻傻的跑到南菲律賓民答那峨的紅色警戒城市漫遊,坐在泰寮邊境的湄公河小鎮發呆是人生最難得的經驗。

Top