To the central content area :::
名人專欄-內頁
::: To the bottom Area

Bersikap Baiklah dengan Imigran di Taiwan

2019-05-31 16:20:00

Di era globalisasi, berbagai negara pun menghadapi migrasi yang lebih beragam, mulai dari penempatan tempat tinggal, pernikahan, studi di luar negeri untuk beberapa waktu, berpindah dari tempat lahirnya ke tempat lain, beberapa orang bahkan menyebut diri mereka migran atau migrator (orang yang berpindah). Perubahan sosial dan fenomena budaya pun harus dihadapi berbagai negara.

Berdasarkan data statistik International Organization for Migration (IOM) di tahun 2006, populasi mereka yang meninggalkan negara atau tanah airnya untuk menetap atau bekerja di tempat lain telah mencapai 2 kali lipat dalam kurun waktu 35 tahun, mencapai jumlah 190 juta jiwa di tahun 2005. Hal ini menunjukkan bahwa lebih dari 3% populasi dunia (1 dari setiap 35 orang) pergi keluar. Statistik juga menunjukkan bahwa populasi yang bermigrasi antar negara kini lebih sering terjadi, sementara batas-batas antar negara kini juga semakin tidak jelas. “Migrasi transnasional” kini ada di sekitar masyarakat, secara bertahap menjadi fenomena yang biasa terjadi.

Saya lebih memperhatikan para migrator yang kurang beruntung, terutama pekerja migran berkerah biru yang bermigrasi ke negara lainnya. Mereka harus menghadapi perbedaan bahasa, budaya, perubahan relasi sosial, serta menghadapi pembatasan atau perubahan kebijakan dari negara lain. Mereka mengalami kesulitan untuk beradaptasi.

Berdasarkan informasi dari Kementerian Tenaga Kerja Eksekutif Yuan, saat ini ada lebih dari 700.000 pekerja migran di Taiwan. Banyak di antara mereka yang bekerja di bidang industri berasal dari Vietnam, Filipina, dan Thailand, negara-negara Asia Tenggara, sementara pekerja sosial kesejahteraan sebagian besar berasal dari Indonesia. Sebagian besar terdistribusi di Kota Taoyuan, Taichung, dan New Taipei. Berdasarkan data statistik Kementerian Dalam Negeri Taiwan, lebih dari 600.000 penduduk baru juga bermigrasi ke Taiwan karena pernikahan, menjadikan Taiwan sebagai salah satu bagian transfer atau perpindahan migrasi transnasional, sehingga ruang kota pun kini telah memiliki berbagai fitur khusus yang terkait dengan keberagaman multi-etnis. Kita seharusnya tahu bahwa Taiwan awalnya merupakan negara yang terdiri dari orang-orang yang bermigrasi dalam periode yang berbeda, penuh dengan keberagaman etnis dan budaya, termasuk etnis suku adat pribumi, Hakka, Minnan, dan Han, sementara 20 tahun belakangan ini juga ada para penduduk baru dan pekerja migran yang bermigrasi dan perlahan berintegrasi dalam kehidupan sosial masyarakat Taiwan, meramaikan multikulturalisme di Taiwan.

Hari Migran Internasional yang dirayakan oleh NIA di Taichung pada tahun 2018 lalu

Hari Migran Internasional yang dirayakan oleh NIA di Taichung pada tahun 2018 lalu

Langkah lemah dari kelas pekerja kerah biru bukan berarti mereka tidak acuh terhadap kampung halamannya. Sebagian besar dari mereka berharap mendapatkan pekerjaan yang lebih baik maka jauh dari rumah, tidak sedikit dari pasangan asing yang juga menerima “perjodohan dan menikah” melakukannya untuk meningkatkan situasi ekonomi keluarga di rumah.

Profesor Hsiao-Chuan Hsia menyatakan bahwa tenaga kerja buruh merupakan sumber daya dengan nilai lebih, dimana secara konstan terus mengembangkan tenaga kerja yang murah, sebuah kondisi yang diperlukan dalam ekspansi kapitalisme, sehingga “pasart tenaga kerja dunia” pun kemudian terlahir. Tidak peduli apakah di jaman dahulu saat orang-orang Irlandia bermigrasi ke Inggris, atau saat perdagangan para budak berkulit hitam, hingga saat ini, saat “era migrasi”, perkembangan kapitalisme bersamaan dengan proses reformasi struktural adalah sebuah fenomena yang tidak dapat dipisahkan (2002a), dengan kata lain merupakan latar belakang berbalut duka dari para pekerja migran.

Taiwan juga tidak terkecuali. Faktor terbesar mengapa pekerja migran kemudian diperkenalkan bukan karena kurangnya tenaga kerja, tetapi karena upah pekerja industri yang lebih murah, penghematan biaya, dengan keuntungan besar, bahkan termasuk bidang teknologi industri juga termasuk, pihak industri terus berteriak kepada pemerintah bahwa mereka kekurangan tenaga kerja. Pemerintah yang berada di bawah tekanan, harus membuka keran pekerja migran sebagai bentuk tanggapan atas tren ini. Taiwan juga menghadapai populasi masyarakat lanjut usia, membuat tenaga keperawatan menjadi hal yang paling hangat untuk didiskusikan saat ini. Para lansia membutuhkan perawatan dan kepedulian dari manusia lainnya, oleh karena itu dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk berusia lansia, pekerja migran pun semakin meningkat secara drastis. Lebih banyak orang lansia, maka akan ada lebih banyak pekerja migran, Taiwan harus menghadapi tantangan besar.

Aula Stasiun Utama Taipei, tempat dimana para migran umumnya berkumpul di hari libur

Aula Stasiun Utama Taipei, tempat dimana para migran umumnya berkumpul di hari libur

Di saat yang sama, negara tetangga Taiwan, Jepang juga memiliki populasi lansia yang meningkat dan telah membuka keran dibukanya arus tenaga kerja imigran asing melalui peraturan yang kini telah disahkan. Meskipun langkah ini merupakan langkah kontroversial dan belum pernah ada sebelumnya, dalam 5 tahun mendatang, diperkirakan pekerja migrant di Jepang akan meningkat hingga 300.000 orang. Dengan adanya peraturan hukum baru, Jepang pun mencetak sejarah baru yang tidak dapat dielakkan lagi, bahwa hal tersebut akan berdampak bagi generasi mendatang di Jepang. Para imigran baru harus menghadapi budaya Jepang, terutama perbedaan bahasa yang menjadi tantangan utamanya.

Jika Taiwan dan Jepang tidak ramah dengan para imigran baru, maka konflik sosial pun akan terjadi. Yayasan The Garden of Hope memberikan pelayanan bagi pekerja migran serta bagi pasangan pengantin asing yang datang dan menetap di Taiwan. Yayasan ini menyadari bahwa proporsi mereka yang mengalami kekerasan di Taiwan itu lebih tinggi. Termasuk didalamnya adalah beban pada gaji yang berlebih, pelecehan, eksploitasi, pelecehan seksual, dan berbagai kasus lainnya. Meskipun pihak pemerintah telah merilis hal-hal baik, seperti hotline pengaduan 1955, shelter, pusat pelayanan bagi penduduk baru, namun hal ini belum benar-benar memberikan manfaat. Lingkungan yang bersahabat bagi multikulturalisme, pengembangan majikan yang bersahabat, pemberian pelayanan bagi penduduk baru secara lebih dan lebih dekat, seperti pembelajaran bahasa lokal secara gratis, publikasi, pemberian saluran dan siaran bahasa lainnya.

Yayasan ini juga meningkatkan keberagaman dari imigran, dengan berbagai budayanya, menciptakan visi sosial kemasyarakatan dan toleransi, bagaimana cara menghadapi lintas budaya, mencari integrasi dan harapan bersama, membangun Taiwan dalam penerimaan, dengan penghargaan dan hak-hak asasi manusia merupakan prioritas utama.

Belakangan ini, terkait dengan bulan Ramadhan yang erat dengan masyarakat dari Indonesia, perayaan Idul Fitri, perayaan Festival Perahu Naga Taiwan dan Vietnam, serta Hari Nasional Filipina yang seluruhnya jatuh di bulan Mei dan Juni, pihak pemerintah dari berbagai kota dan daerah pun menggelar berbagai kegiatan terkait, agar teman-teman migran merasa lebih antusias, bersemangat. Namun begitu, kami pun berharap agar Taiwan di jangka panjang memiliki dasar pelayanan bagi imigran yang stabil, sehingga membuat para imigran merasa bebas, tenang, dan dapat mengakses pelayanan tersebut dengan baik.

Kegiatan shalat Ied di Masjid Daan, Taipei 

Kegiatan shalat Ied di Masjid Daan, Taipei 

Terakhir, sebagai contoh adalah wartawati BBC bernama Lipika Pelham, ia berpindah dari Bangladesh ke Israel. Ia pun kemudian mengalami kesulitan dalam memahami “konflik Israel-Pakistan”. Dengan menggunakan kata-kata, ia merekam konfluk budaya yang ada, di atas kehidupan, jiwanya yang hilang berusaha menemukan pengalaman untuk memiliki. Ia berkata, “di dunia ini, tidak ada seorangpun yang dapat memonopoli sebuah tanah untuk selamanya.” Fokus dengan penghargaan, dengan tidak merusak rumah, situs-situs bersejarah, masjid, gereja, dan berbagai situs bangunan kuno lainnya. Asal tidak membawa hal-hal yang melukai hati kembali, saya rasa aku dan kamu memiliki hak yang sama untuk berada di sini.”

Penulis: Ji Huirong

Top