To the central content area :::
名人專欄-內頁
::: To the bottom Area

Wang Lilan: Mengapa Orang Taiwan Mau Belajar Bahasa Asing?

2019-04-29 16:30:00

Wang Lilan (王麗蘭- depan, berbaju merah) mengajak murid-muridnya ke Y Plaza bawah tanah untuk mempelajari budaya Indonesia (sumber: Wang Lilan)

Wang Lilan (王麗蘭- depan, berbaju merah) mengajak murid-muridnya ke Y Plaza bawah tanah untuk mempelajari budaya Indonesia (sumber: Wang Lilan)

Setiap tahun di bulan September merupakan tanggal memulai kegiatan kuliah baru di tahun universitas. Saya berada di kelas Bahasa Indonesia di Universitas Nasional Taiwan, dengan lebih dari 30 siswa yang ingin mengambil kelas ini. Melalui konvensi, pertama-tama saya akan meminta siswa untuk menulis alasan mengapa mereka ingin mengambil kelas ini, mengapa mereka ingin mengambil kelas bahasa Indonesia pada usia saat ini?

Saya bertanya karena pasti ada alasannya. Saya telah bertemu banyak orang di dalam komunitas masyarakat, bagi orang-orang yang bekerja, pensiunan yang mempelajari bahasa Indonesia, alasan dan motivasi mereka tidak lebih dari ingin tahu tentang budaya asing, ingin bepergian ke Bali atau yang lainnya (ya! Pulau Bali ada di Indonesia). Saya pernah mendengar hal yang paling tak terduga, sedikit merasa tersesat ketika alasannya adalah: "mungkin ketika saya menjadi tua, bahasa asing yang akan saya gunakan adalah bahasa Indonesia." Tanggapan ini adalah reaksi tanggap dari keadaan sosial masyarakat Taiwan dimana masyarakat usia tua meningkat pesat, dengan status quo mengandalkan pengasuh Indonesia untuk mendukung sistem perawatan jangka panjang. Tapi sebenarnya, tidak ada yang bisa mengatakan, dalam 10 tahun atau 20 tahun ke depan, apakah masih akan memiliki adegan yang sama? Menurut statistik Biro Statistik Indonesia, PDB Indonesia tumbuh sebesar 5,17% pada tahun 2018. Dengan populasi sekitar 250 juta orang, negara ini merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di Asia Tenggara.

Walaupun demikian, saya penasaran, mengapa para mahasiswa yang berusia sekitar 20 tahun mau dan siap untuk belajar bahasa serta budaya Indonesia di universitas, setidaknya 3 jam (atau lebih) per minggu. Saya benar-benar termotivasi dengan rasa ingin tahu. Dari catatan yang diambil kembali, banyak siswa menyadari bahwa Indonesia adalah negara berpenduduk padat dan memiliki potensi besar untuk pembangunan di masa depan. Dapat dilihat bahwa dalam beberapa tahun terakhir, baik pemerintah maupun media yang terkait dengan pemberitaan kebijakan selatan baru telah memiliki beberapa hasil. Banyak lansia di keluarga memiliki pengasuh atau perawat yang berasal dari Indonesia, berharap dapat berkomunikasi dengan mereka, membuat saya melihat bahwa orang-orang muda perlahan-lahan tahu bagaimana menghormati pengasuh yang membantu dan datang dari jauh. Dalam beberapa tahun terakhir, ada banyak "generasi kedua baru", apakah ayah atau ibunya berasal dari Indonesia. Karena masa kanak-kanak tidak memiliki kesempatan untuk berbicara bahasa Indonesia, ketika belajar di universitas, akhirnya mereka memiliki waktu dan ruang untuk belajar “bahasa ibu”. Orang lain mungkin memilihnya hanya karena kebetulan atau ingin tahu, mari kita lihat dan cari tahu.

Biasanya, begitu siswa masuk ke ruang kelas, saya tidak akan membiarkan mereka keluar (tertawa ~)! Karena ini merupakan kesempatan langka, yang mengizinkan saya untuk menggunakan waktu berharga selama 18 minggu untuk pendidikan universitas, mengumpulkan mereka terkait dengan multikulturalisme, melalui bahasa yang sederhana dan mudah digunakan, dengan budaya yang penuh warna, kemudian ditransfer kepada mereka, membuat para siswa dapat membuka mata, memperluas cakrawala. Selama kegiatan belajar mengajar, saya pun menghargai hasil belajar siswa, tetapi saya tidak memperhatikan hasil tes tertulis; saya menghargai kemajuan yang dicapai para siswa, tetapi saya tidak “membatasi” mereka dengan nilai saja. Saya memperhatikan kehadirannya, tetapi saya tidak menyebutkannya, saya hanya mencoba mengingat semua nama siswa, menggunakan berbagai jenis metode, menempatkan wajah, nama, latar belakang, dan kebiasaan duduk para siswa untuk diingat, membuat para siswa merasakan perhatian guru terhadap mereka. Tanpa ragu, saya pikir selama para siswa merasakan perhatian guru terhadap mereka, mereka juga akan memberikan perhatian yang sama terhadap kelas ini juga. Hal yang lebih penting lagi, melalui pengetahuan di kelas ini, secara perlahan budaya dan orang-orang yang ada di dalamnya akan menghasilkan hubungan yang lebih dekat. Jika berjalan dengan baik, hal ini dapat membentuk motivasi belajar secara spontan dan otomatis.

Tentu saja, saya masih menghadapi tantangan lain. Agar para siswa terhindar dari begadang setiap hari, tertidur saat jam sembilan pagi; atau jam 1 siang, karena terlalu kenyang dan tidak sengaja tertidur, saya pun menggunakan metode latihan praktek untuk setiap kelas. Kegiatannya termasuk mendengarkan, membaca, budaya, tata bahasa, lagu-lagu populer, sedikit pengetahuan tentang Indonesia, pengamatan budaya Taiwan, berbagai lelucon dalam pembelajaran Indonesia. Semuanya dilakukan secara bergiliran, seperti ilusionis, setiap lima hingga sepuluh menit dan kemudian polanya diubah, sehingga siswa di kelas hampir tidak bisa bermain ponsel atau tertidur selama kelas.

Bicara begitu banyak, mengapa Anda mau begitu lelah? Hal ini karena ada banyak alasan. Pertama-tama, hanya sedikit dari mereka, banyak dari mahasiswa yang harus memiliki kredit cukup agar memiliki kesempatan dan waktu untuk memilih kelas favorit, yang menarik bagi mereka. Karenanya, sebelum mereka pergi ke masyarakat, saya harus mengambil kesempatan ini, membuat mereka tahu dan mengalami kontak dengan budaya dan bahasa dengan sikap yang benar, berharap agar setelah mereka tumbuh di masa depan, mereka memiliki pengetahuan lebih tentang orang-orang Asia Tenggara dan budayanya. Kedua, saya sering merasakan kegelisahan kolektif anak muda di Taiwan, entah itu terkait dengan gaya hidup, perkembangan diri, pekerjaan, dll. Tampaknya semua orang berjalan dengan cara yang sama, tidak berani untuk menjadi berbeda. Mungkin, melalui bahasa dan budaya Indonesia, saya dapat membuat para siswa melihat tempat-tempat lain di dunia, di mana ada banyak orang yang hidup dalam kehidupan yang berbeda, memiliki gaya hidup dan filosofi yang berbeda. Mereka memiliki kebahagiaan mereka sendiri dalam hidup, optimisme, atau mungkin kesedihan, mungkin ketidakberdayaan, tetapi mereka memiliki kemampuan untuk memilih untuk diri mereka sendiri.

Sama seperti ini, saya pikir niat untuk mempelajari bahasa asing kedua, ketiga, atau bahkan yang keempat juga memungkinkan kita untuk melihat sisi lain dan sudut dunia dengan mata kita sendiri. Tes bahasa skor tinggi mungkin dapat dikembangkan sebagai sebuah ujian kompetensi dan motivasi yang efektif untuk belajar, tetapi di masa di mana orang-orang hidup dengan mati-matian berjuang untuk mendapatkan skor tinggi, jangan lupa untuk kembali ke alasan awal mempelajari bahasa asing. Lihat kembali ke belakang, betapa dunia ini indah dan mempesona.

 

Top