To the central content area :::
laporan khusus-內頁
::: To the bottom Area

Lin Xiang Lian “Bukan Kemiskinan yang Perlu Ditakutkan, tetapi Kekurangan Ambisi”

2016-01-13 15:40

Lin Xiang Lian adalah generasi kedua dari penduduk migran di Pingtung, Taiwan. Gadis muda yang sangat positif ini datang dari keluarga yang kurang berada. Daripada mengeluhkan ketidakadilan yang dialami, ia melakukan hal terbaik yang ia bisa untuk membuat hidupnya lebih baik. Dengan kerja keras yang terus-menerus, ia kini mendapatkan 5 lisensi memasak.

Ibunya yang berasal dari Filipina menikah dengan ayahnya dan datang ke Taiwan 18 tahun lalu. Dengan uang yang tidak seberapa dari dinas sosial, ibunya membesarkan 3 anak. Sebagai putri tertua, Lin Xiang Lian mulai bekerja ketika usianya baru menginjak 13 tahun. Setelah menyelesaikan sekolah menengah, ia belajar katering di Hengchun Industry and Commercial Institution. Ia tidak ingin membebani keluarga.

Ia adalah seorang perempuan mandiri yang kuat dan rajin bekerja. Dengan kepandaiannya, ia mampu meraih beasiswa dan dapat membantu saudara-saudaranya untuk sekolah. “Saya tidak dapat mengeluh. Saya harus memberikan seluruh kemampuan saya untuk merealisasikan mimpi saya,” katanya dengan percaya diri.

Mengetahui bahwa pendidikan adalah jalan satu-satunya untuk keluar dari kemiskinan, Lin Xiang Lian tidak pernah absen. Mulai dari memasak hingga bartender, ia pelajari semuanya. “Kamu mendapatkan apa yang kamu tuai,” tepat untuk Lin Xiang Lian. Kini ia memiliki 5 sertifikat keterampilan memasak dan sedang bersiap untuk menempuh pendidikan lanjutan di Universitas Pingtung tahun mendatang.

Gurunya, Wang Su Qiu, memberinya banyak pujian. Di rumah, ia adalah anak yang baik dan kakak yang perhatian. Di kelas, ia adalah seorang pelajar yang rajin dan ramah terhadap semua orang. Terlebih, kini ia adalah ketua kelas dengan hasil pemungutan suara mayoritas.

Sebagai gadis berumur 18 tahun, ia memiliki mimpi untuk mengunjungi keluarga besarnya di Filipina bersama dengan sang ibu. “Karena keluarga saya miskin, ibu saya tidak memiliki kesempatan untuk melihat kakek di saat terakhirnya. Setiap kali saya melihatnya menangis, hati saya ikut terluka. Harapan saya adalah mengumpulkan banyak uang agar di kemudian hari dapat membawanya pulang.”

 

Detail video interview Lin Xiang Lian : https://video.udn.com/news/420890

Top