To the central content area :::
laporan khusus-內頁
::: To the bottom Area

Membedakan Gejala Infeksi Covid-19 dan Alergi pada Anak

2020-06-29 17:20


Ilustrasi  Alergi pada Anak(Thinkstockphotos)

Anak-anak tak terlepas dari ancaman infeksi Covid-19. Namun, orangtua sebaiknya tidak panik terlebih dahulu jika anak menunjukkan gejala mirip Covid-19, seperti batuk dan pilek bebab bisa saja itu merupakan gejala alergi. Konsultan Alergi dan Imunologi Anak, Prof. DR. Budi Setiabudiawan, SpA (K), M.Kes menyebutkan, gejala alergi akan muncul di tiga organ, salah satunya adalah organ pernapasan. Oleh karena itu, bisa saja terjadi kemiripan antara gejala infeksi dan alergi. "Dalam masa pandemi banyak orangtua bertanya jika ada gejala di saluran napas, banyak was-was alergi atau infeksi virus Corona." Demikian diungkapkan Prof. Budi dalam webinar "Pekan Tanggap Alergi Generasi Maju: Tanggap Alergi di Masa Pandemi untuk Generasi Maju" bersama SGM Eksplor Advance+ Soya, Senin (29/6/2020).

Untuk membedakan gejala saluran pernapasan untuk kasus alergi atau infeksi, cobalah menjawab setidaknya tiga pertanyaan berikut. 1. Apakah selama batuk/pilek disertai demam? 2. Apakah sering terjadi di malam hari atau muncul sepanjang hari? 3. Apakah keluar dahak? Jika iya, apakah dahak mengental seperti ingus dan seperti apa warnanya? Prof. Budi menjelaskan, jika anak mengalami infeksi, termasuk infeksi Covid-19, maka gejala batuk/pilek biasanya disertai dengan demam, sementara alergi biasanya tidak disertai demam.

Jika penyebabnya infeksi, kejadian batuk atau pilek terjadi sepanjang hari, sementara alergi utamanya muncul pada malam hari.

Dahak atau ingus yang mengental dan berwarna juga merupakan gejala infeksi, sedangkan ingus atau dahak pada anak yang menderita alergi cenderung encer dan bening. Jika anak mengalami baik infeksi maupun alergi, segeralah berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan diagnosa yang kurat dan anak bisa mendapatkan penanganan yang tepat. Anak yang mengalami alergi susu sapi, misalnya, maka dokter akan mengobati gejala yang muncul dan menginformasikan agar anak menghindari konsumsi protein susu sapi dan olahannya. Kemudian, anak akan diarahkan untuk mengonsumsi sumber nutrisi pengganti agar tumbuh kembangnya tetap optimal. "Jangan mendiagnosa sendiri atau mengobati atau mengambil tindakan sendiri, karena mendiagnosa, mengobati atau melakukan tindakan sendiri tanpa dikonsultasikan kepada dokter bisa menyebabkan diagnosa yang terlambat serta penanganan tidak sesegera mungkin dan optimal," katanya.

Sumber:Kompas

 

Top