Kelelahan kerja terkadang bukan sekadar rasa lelah, tetapi bisa menjadi tanda seseorang memasuki “sindrom burnout”. Ketika tubuh tidak benar-benar beristirahat, kadar gula darah dan berat badan dapat ikut terpengaruh. Penelitian menunjukkan bahwa orang dengan tingkat burnout tinggi memiliki risiko obesitas sekitar 40% lebih tinggi, menandakan kondisi kesehatan yang perlu diwaspadai.
Dokter penyakit dalam sekaligus spesialis penurunan berat badan, Chen Weilong, menjelaskan bahwa “sindrom burnout” adalah kelelahan fisik dan mental akibat tekanan serta kelelahan emosional jangka panjang. Gejalanya meliputi kelelahan emosional, merasa tidak terhubung dengan pekerjaan secara emosional, dan menurunnya rasa pencapaian. Kondisi ini tidak hanya bersifat psikologis, tetapi juga dapat memengaruhi sistem neuroendokrin dan regulasi stres, sehingga mengganggu tidur dan metabolisme.
Ia mencontohkan seorang pria 42 tahun yang bekerja sebagai eksekutif di industri teknologi. Dalam enam bulan berat badannya naik 12 kilogram dan hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi pra-diabetes. Ia juga mengalami dengkuran berat saat tidur dan didiagnosis mengalami perlemakan hati tingkat sedang. Tes darah menunjukkan resistensi insulin serta kadar gula darah puasa, trigliserida, dan asam urat yang tinggi.
Menurut Chen, tekanan psikologis di tempat kerja dapat meningkatkan risiko insomnia. Orang dengan burnout tinggi juga cenderung memiliki lebih banyak lemak visceral, yang berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular dan gangguan metabolik.
Namun, kebiasaan hidup sehat masih dapat membantu mengendalikan dampak stres. Olahraga teratur dan pola makan seimbang seperti diet Mediterania dapat mengurangi risiko obesitas akibat stres. Ia juga menekankan bahwa gangguan metabolik sering berkaitan dengan kualitas tidur yang buruk. Tidur bukan sekadar istirahat, tetapi fondasi penting untuk menstabilkan hormon dan menjaga metabolisme. Jika muncul gejala seperti sulit tidur, kelelahan di siang hari, kenaikan berat badan, atau fluktuasi gula darah, sebaiknya segera mencari evaluasi medis profesional.
Artikel ini digunakan dengan izin dari CNA.