Benarkah anak yang “bulat dan berisi” saat kecil hanya terlihat menggemaskan? Berdasarkan data Kementerian Pendidikan untuk tahun ajaran 2024, prevalensi kelebihan berat badan dan obesitas di kalangan siswa sekolah dasar di Taiwan mencapai 23,6%, yang berarti hampir 1 dari setiap 4 siswa menghadapi masalah berat badan di atas kisaran yang sehat. Administrasi Promosi Kesehatan (HPA) menunjukkan bahwa obesitas pada anak tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis, interaksi sosial, dan prestasi belajar.
Anggapan bahwa “gemuk saat kecil bukan masalah” juga dapat membuat masalah berat badan anak terabaikan. Mengutip Survei Wawancara Kesehatan Nasional tahun 2021, HPA menunjukkan bahwa di antara anak berusia 3 hingga kurang dari 12 tahun, sebanyak 46,8% orang tua tidak dapat mengenali dengan tepat apakah anak mereka mengalami kelebihan berat badan, baik karena mengira berat badan anak sudah sesuai maupun karena tidak mengetahuinya. Di antara anak yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas, bahkan 59,1% belum melakukan langkah untuk mengendalikan berat badan.
Kebiasaan makan anak berkaitan erat dengan berat badan yang sehat. Asupan sayuran dan buah yang seimbang dapat membantu membangun pola hidup sehat. (Foto/MamaBaby)
Obesitas pada Anak Dikhawatirkan Meningkatkan Risiko Penyakit Kronis Saat Dewasa
HPA menyatakan bahwa bukti medis menunjukkan obesitas pada anak dapat menyebabkan munculnya lebih dini tekanan darah tinggi, kadar lipid darah yang tidak normal, perlemakan hati, dan gangguan metabolisme. Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan risiko terkena penyakit kronis saat dewasa. Karena itu, pengelolaan berat badan yang sehat sejak masa kanak-kanak semakin mendapat perhatian.
Menurut Survei Wawancara Kesehatan Nasional HPA tahun 2021, hampir separuh orang tua anak berusia 3 hingga kurang dari 12 tahun tidak dapat menilai status berat badan anak dengan tepat. Sebanyak 46,8% di antaranya mengira berat badan anak sudah sesuai atau tidak mengetahui apakah anak mengalami kelebihan berat badan. Bahkan di antara anak yang sudah mengalami kelebihan berat badan atau obesitas, masih terdapat 59,1% yang belum melakukan langkah untuk mengendalikan berat badan.
Survei tersebut juga menemukan bahwa ketika orang tua memiliki pemahaman yang tepat mengenai status berat badan anak, 63,5% menyatakan bersedia mengambil tindakan untuk mengendalikan berat badan anak. HPA karena itu menunjukkan bahwa meningkatkan pemahaman orang tua mengenai status berat badan anak merupakan langkah penting untuk melakukan deteksi dan intervensi sejak dini.
Aktivitas Fisik dan Konsumsi Sayur serta Buah Masih Perlu Ditingkatkan
Selain masalah berat badan, tingkat aktivitas fisik dan pola makan sehari-hari anak juga menjadi perhatian.
Data terkait menunjukkan bahwa hanya sekitar 35% anak yang memenuhi standar rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk melakukan aktivitas fisik intensitas sedang hingga berat selama 60 menit setiap hari. Dalam hal konsumsi sayur dan buah, sebanyak 96% anak setiap hari belum mencapai jumlah yang direkomendasikan, yaitu 3 porsi sayuran dan 2 porsi buah.
HPA menyatakan bahwa berat badan yang sehat pada anak berkaitan erat dengan pola hidup sehari-hari. Oleh karena itu, berbagai upaya yang dilakukan tidak hanya berfokus pada angka berat badan, tetapi juga mencakup aktivitas fisik, pola makan, dan kebiasaan hidup.
Pola makan tinggi lemak dan kalori dapat menambah tantangan dalam pengelolaan berat badan anak. Kebiasaan makan seimbang perlu dibangun sejak dari makanan sehari-hari. (Foto/MamaBaby)
Sekolah Mendorong “85210” sebagai Kode Hidup Sehat
HPA menunjukkan bahwa obesitas dan masalah kesehatan merupakan hasil dari pola hidup yang terbentuk dan terakumulasi dalam jangka panjang. Karena itu, selain intervensi kesehatan sejak masa kehamilan dan usia prasekolah, sekolah juga menjadi lingkungan penting untuk membangun kebiasaan hidup sehat pada anak. Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan serta Kementerian Pendidikan bersama-sama menjalankan Program Sekolah Promosi Kesehatan, dengan menjadikan berat badan sehat sebagai salah satu fokus utama. Keduanya juga bekerja sama mempromosikan kode hidup sehat “85210”, yang membawa kebiasaan sehat dari sekolah hingga ke lingkungan keluarga. “85210” mencakup:
8: Tidur setidaknya 8 jam setiap hari.
5: Mengonsumsi 5 porsi sayur dan buah setiap hari.
2: Membatasi penggunaan layar 3C kurang dari 2 jam setiap hari.
1: Berolahraga selama 1 jam setiap hari.
0: Lebih banyak minum air putih dan memilih minuman tanpa gula.
Gunakan Kalkulator BMI Anak untuk Mengetahui Status Berat Badan
HPA juga mengingatkan bahwa orang tua dapat menggunakan “Kalkulator Nilai Rekomendasi Indeks Massa Tubuh (BMI) untuk Pertumbuhan Anak dan Remaja” yang disediakan secara resmi. Dengan memasukkan usia, tinggi badan, dan berat badan anak, orang tua dapat mengetahui apakah status berat badan anak saat ini berada dalam kisaran yang sehat.
Selain itu, orang tua juga dapat mengunduh “Buku Panduan Edukasi Kesehatan Anak” untuk memperoleh informasi kesehatan sesuai dengan berbagai tahap pertumbuhan anak. Dengan memperhatikan pola makan seimbang dan gaya hidup aktif, orang tua dapat membantu anak membangun pola hidup yang sehat.
HPA menyatakan bahwa menjaga berat badan sehat pada anak perlu dilakukan sejak masa kehamilan hingga usia sekolah. Melalui kerja sama antara keluarga, sekolah, dan sistem pelayanan kesehatan dalam membangun lingkungan yang mendukung, kebiasaan sehat dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak.
Artikel ini digunakan dengan izin dari MamaBaby.