Petani kelapa sawit rakyat di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, mengaku menghadapi tantangan berat akibat penurunan harga tandan buah segar (TBS) yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Pada saat yang sama, biaya produksi seperti pupuk dan pestisida justru mengalami kenaikan yang cukup signifikan.
Salah seorang petani di Kecamatan Bahorok, Herman, mengatakan harga TBS di wilayahnya kini berada di kisaran Rp2.270 per kilogram. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan harga yang sebelumnya sempat berada di sekitar Rp3.000 per kilogram.
Selain penurunan harga hasil panen, petani juga harus menghadapi kenaikan biaya sarana produksi. Harga pupuk yang sebelumnya sekitar Rp500.000 per karung kini mencapai Rp700.000, sementara sejumlah produk pestisida meningkat dari sekitar Rp60.000 menjadi Rp80.000 per botol. Kenaikan biaya tersebut diperkirakan mencapai sekitar 40 persen.
Kondisi tersebut membuat sebagian petani mulai mengurangi penggunaan pupuk untuk menekan pengeluaran. Beberapa petani yang sebelumnya menggunakan sekitar 100 kilogram pupuk dalam satu periode pemeliharaan kini menyesuaikannya menjadi sekitar 50 hingga 60 kilogram.
Menurut Herman, situasi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap produktivitas kebun di masa mendatang. Di sisi lain, meningkatnya harga pupuk juga dikhawatirkan membuka peluang beredarnya produk yang kualitasnya tidak terjamin di pasaran.
Para petani berharap pemerintah dapat mengambil langkah untuk menjaga stabilitas harga komoditas sawit sekaligus memperhatikan ketersediaan dan harga sarana produksi pertanian. Mereka menilai keseimbangan antara harga jual hasil panen dan biaya produksi sangat penting untuk menjaga keberlanjutan usaha perkebunan rakyat.
Di tengah kondisi pasar yang belum stabil, banyak petani memilih lebih berhati-hati dalam mengelola pengeluaran sambil menunggu perkembangan harga sawit pada periode berikutnya.