Singapura, Qatar, UEA, Israel, Estonia, Swiss, Irlandia, Botswana, Yordania, Armenia
Bagaimana negara kecil menyalip kekuatan besar dengan kebijaksanaan dan fleksibilitas? 
Masa depan dunia mungkin tidak ditentukan oleh yang kuat, tetapi oleh negara yang cerdas.
Memahami negara kecil yang kokoh adalah titik awal untuk membaca zaman yang terus berubah ini.
Singapura, Swiss, dan Estonia yang kekurangan sumber daya justru mencetak keajaiban ekonomi Israel dan Irlandia dengan arus emigrasi besar malah menjadi "raksasa kecil" dengan kekuatan melebihi ukuran wilayah Qatar, UEA, Botswana, dan Yordania mampu bangkit di tengah tekanan dan berhasil membangun negara merdeka. 
Ketika dunia semakin ekstrem, di tengah perebutan kekuasaan dan tantangan internal maupun eksternal, negara kecil yang adaptif dan inovatif ini perlahan membentuk kembali tatanan dunia. 
Mantan Presiden Armenia Armen Sarkissian &mdash ilmuwan, pengusaha, diplomat, sekaligus kepala negara - dengan pengalaman pribadi dan pengamatannya, menggambarkan bagaimana negara kecil di Asia, Eropa, dan Afrika bangkit dari masa-masa penuh gejolak. Mereka membangun negara modern yang stabil, aman, dan makmur melalui kepemimpinan hebat, inovasi teknologi, keterbukaan budaya, dan stabilitas fiskal. 
Sarkissian meyakini: negara kecil bukanlah negara lemah. Justru, mereka memiliki keunggulan strategis berupa fleksibilitas dan kecepatan bertindak, mampu menjadi mediator konflik, mendorong perdamaian, bahkan memainkan peran penting dalam urusan global. 
"Kebijaksanaan Sepuluh Negara Kecil" adalah refleksi geopolitik yang sangat inspiratif. Di tengah merebaknya ekstremisme dan sibuknya kekuatan besar mengurus diri sendiri, kini saatnya negara kecil yang cerdas bersatu mengembalikan keseimbangan dan harapan bagi dunia. 
(Untuk informasi lebih lanjut, lihat buku Kebijaksanaan Sepuluh Negara Kecil: Dari Kepemimpinan, Inovasi hingga Teknologi)
Artikel ini disadur dengan izin dari Global Views - CommonWealth Publishing Group.