Kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Kalimantan telah mencapai Filipina dan menyebabkan penurunan kualitas udara di sejumlah wilayah Metro Manila pada 1 September.
Berdasarkan laporan Department of Environment and Natural Resources–Environmental Management Bureau untuk National Capital Region, beberapa kota mencatat kualitas udara pada tingkat “Very Unhealthy” hingga “Acutely Unhealthy” pada Selasa pagi.
Data pukul 06.00 waktu setempat menunjukkan Parañaque mencatat Air Quality Index atau AQI sebesar 296, Quezon City 241, Las Piñas 237 dan Kota Manila 231.
AQI pada kisaran 201–300 dikategorikan sebagai “Acutely Unhealthy”. Pada tingkat tersebut, dampak kesehatan dapat dirasakan oleh masyarakat secara luas dan aktivitas di luar ruangan perlu dibatasi.
Sebagian besar wilayah lain yang dipantau di Metro Manila berada pada kisaran AQI 151–200 atau kategori “Very Unhealthy”. Otoritas setempat memperingatkan bahwa kondisi ini dapat memperburuk kesehatan orang dengan gangguan jantung dan paru-paru.
Kenaikan AQI berkaitan dengan tingginya konsentrasi PM2.5. Partikel halus berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil tersebut dapat masuk jauh ke sistem pernapasan dan memberikan risiko lebih besar bagi kelompok rentan.
Fisikawan atmosfer dan profesor meteorologi Universitas Filipina Gerry Bagtasa mengatakan citra satelit memperlihatkan titik api aktif di Kalimantan bagian barat dan selatan dalam beberapa hari terakhir.
Menurutnya, pola angin yang tidak biasa kemungkinan membawa asap dari Indonesia ke arah utara sehingga polutan dapat melintasi garis khatulistiwa dan mencapai Filipina. Aliran asap tersebut dinilai turut menyebabkan kondisi berkabut di Metro Manila.
Otoritas Filipina mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara masih buruk.
Anak-anak, lansia, ibu hamil serta orang dengan gangguan jantung atau paru-paru disarankan memakai masker apabila paparan udara luar tidak dapat dihindari dan sebisa mungkin tetap berada di dalam ruangan.