按下ENTER到主內容區
:::

Sejarah Guling di Indonesia: Dari Kesepian Kolonial hingga Jadi Teman Tidur

Guling sebagai bagian dari budaya tidur masyarakat Indonesia(Foto freepik/Freepik)
Guling sebagai bagian dari budaya tidur masyarakat Indonesia(Foto freepik/Freepik)

Bagi banyak orang Indonesia, tidur tanpa guling terasa kurang nyaman. Namun, di balik fungsinya sebagai bantal peluk, guling menyimpan sejarah panjang yang berawal dari masa kolonial Belanda. Pada awalnya, guling dibuat dari anyaman bambu atau rotan yang berongga, berfungsi menjaga sirkulasi udara agar tubuh tetap sejuk di iklim tropis.

Dalam catatan kolonial, guling dikenal dengan sebutan Dutch wife atau “istri Belanda”. Istilah ini merujuk pada benda yang menemani pria kolonial yang hidup jauh dari pasangan sah. Sejumlah kajian menyebut guling sebagai simbol kesepian sekaligus refleksi relasi kuasa antara penjajah dan masyarakat lokal.

Seiring perkembangan zaman, material dan fungsi guling ikut berubah. Dengan hadirnya pendingin ruangan, guling tidak lagi berfungsi sebagai alat penyejuk utama. Kini, guling dibuat dari bahan empuk seperti kapas dan memory foam, tetap mempertahankan fungsinya sebagai penopang tubuh dan pemberi kenyamanan saat tidur. Dari artefak kolonial, guling telah bertransformasi menjadi bagian penting dari budaya tidur masyarakat Indonesia modern.

Berita Populer

回到頁首
Loading