按下ENTER到主內容區
:::

Asal-usul Ce Hun Tiau, Cendolnya Pontianak Lengkap dengan Resepnya

Sajian Ce Hun Tiau dengan isian sagu, kacang merah, ketan hitam, dan kuah santan gula aren(Foto Detikcom / Atiqa Rana)
Sajian Ce Hun Tiau dengan isian sagu, kacang merah, ketan hitam, dan kuah santan gula aren(Foto Detikcom / Atiqa Rana)

Ce Hun Tiau merupakan salah satu minuman manis paling ikonik di Pontianak. Hidangan ini digemari tidak hanya oleh warga lokal, tetapi juga wisatawan yang berkunjung. Sekilas tampilannya mirip dengan cendol atau es campur, namun cita rasa dan teksturnya memiliki keunikan tersendiri.

Sejarah Ce Hun Tiau berakar dari komunitas Tionghoa, khususnya kelompok berbahasa Tio Ciu (Teochew), yang bermigrasi ke Kalimantan Barat. Nama Ce Hun Tiau berasal dari dialek Tio Ciu yang merujuk pada olahan tepung berbentuk memanjang dengan tekstur kenyal.

Bahan utamanya biasanya berupa sagu atau tepung hun kwe yang direbus hingga transparan dan lembut. Seiring waktu, masyarakat Pontianak menambahkan kacang merah, ketan hitam, cincau hitam, bongko pandan, serta kuah santan dan gula aren cair. Proses akulturasi inilah yang menjadikan Ce Hun Tiau sebagai dessert khas daerah, bukan sekadar makanan komunitas tertentu.

Pengakuan nasional datang ketika Ce Hun Tiau masuk nominasi Anugerah Pesona Indonesia (API) II Tahun 2017 sebagai minuman tradisional terpopuler.

Pada bulan Ramadan, Ce Hun Tiau menjadi menu favorit untuk berbuka puasa. Kandungan gula, santan, dan karbohidrat membantu tubuh memulihkan energi setelah seharian berpuasa. Kini, Ce Hun Tiau dinikmati oleh berbagai kalangan dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas kuliner Pontianak.

Berita Populer

回到頁首
Loading