Selama liburan musim dingin dan Tahun Baru Imlek, waktu penggunaan ponsel, tablet, dan internet oleh anak-anak meningkat secara signifikan. Bagi banyak orang tua, bagaimana menyeimbangkan antara relaksasi dan pendampingan menjadi tantangan bersama selama liburan. Kementerian Pendidikan Taiwan menyatakan bahwa dibandingkan hanya membatasi waktu penggunaan, pendampingan melalui dialog dan kebersamaan justru lebih penting untuk membantu anak memahami konten media serta membangun literasi media dan kemampuan perlindungan diri dasar.
Kementerian Pendidikan menyarankan agar orang tua memanfaatkan situs “Media Literacy Educational Resources Network” selama liburan, dengan menjadikan video pendek dan konten media sosial yang sering diakses anak sebagai bahan pembelajaran bersama dalam keluarga. Melalui percakapan, pertanyaan, dan diskusi, anak dapat dibimbing untuk membedakan kebenaran informasi serta memahami bagaimana media memengaruhi emosi dan perilaku, sehingga teknologi digital menjadi alat pembelajaran, bukan sumber risiko.
Situs tersebut mengintegrasikan contoh berita, sudut pandang penelitian, dan materi pembelajaran yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, menjelaskan bagaimana media membentuk persepsi dan nilai. Kementerian Pendidikan menekankan bahwa selama liburan, orang tua dapat memulai dari situasi sehari-hari seperti membaca berita, berselancar di media sosial, atau mengikuti topik idola, untuk mendampingi anak meninjau kembali kebiasaan penggunaan internet dan membangun pola penggunaan yang sehat serta reflektif.
Situs ini juga merilis beberapa artikel tematik yang membahas keamanan anak dan remaja di dunia maya, risiko eksploitasi seksual di era digital, serta pengaruh psikologis media dalam budaya fandom (idol). Artikel-artikel tersebut mengingatkan bahwa dunia digital tidak hanya berisi hiburan dan kemudahan, tetapi juga ketimpangan kekuasaan dan risiko tersembunyi. Kunci utamanya adalah kemampuan mengenali dan menilai informasi. Kementerian Pendidikan menegaskan bahwa budaya fandom bukanlah hal negatif, namun memahami mekanisme media dan mobilisasi emosi di baliknya penting untuk mencegah dampak yang tidak diinginkan.
Kementerian Pendidikan berharap melalui contoh kehidupan sehari-hari dan penjelasan yang mudah dipahami, keluarga dapat membangun komunikasi yang baik, menjadikan liburan musim dingin bukan hanya waktu beristirahat, tetapi juga momen penting untuk pembelajaran bersama, penguatan daya nalar, perlindungan diri, dan literasi media.