Kasus Kai-Kai baru-baru ini mengejutkan masyarakat dan kembali menyoroti isu kekerasan terhadap anak. Menurut statistik dari Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan (MOHW) Taiwan, terdapat lebih dari 120.000 laporan kasus kekerasan terhadap anak pada tahun 2023, meningkat 20% dibanding tahun sebelumnya. Sebagian besar korban adalah anak sekolah dasar, dan hampir 50% kasus melibatkan perlakuan fisik yang tidak pantas. Meskipun sebagian besar orang tua bermaksud untuk mendidik, 20% mengaku telah memberikan hukuman fisik dalam sebulan terakhir, dan 80% menganggapnya wajar.
Yayasan Child Welfare menyampaikan bahwa hukuman fisik tidak membantu anak memahami kesalahan, justru memperlemah hubungan antara orang tua dan anak, mengurangi kepercayaan dan kemauan untuk berkomunikasi. Banyak orang tua, karena tekanan atau kesulitan mengelola emosi, secara impulsif membentak atau memukul anak tanpa menyadari dampak psikologis jangka panjang.
Masih ada 80% orang tua yang menganggap hukuman fisik sebagai bentuk pengasuhan. (Gambar/sumber: Heho Health)
Li Zhen-fang, pengawas dari Yayasan Child Welfare cabang Miaoli, membagikan 4 teknik untuk menstabilkan emosi: (1) &ldquoPejamkan mata dan tarik napas dalam&rdquo untuk menenangkan diri (2) &ldquoTinggalkan lokasi&rdquo agar tidak memperburuk situasi dengan anak (3) &ldquoCari bantuan orang lain&rdquo seperti anggota keluarga lainnya (4) &ldquoHadapi emosi anak&rdquo dan ungkapkan perasaan diri secara jujur untuk menghindari reaksi berlebihan.
Semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa membentak dan menghukum secara fisik berdampak negatif jangka panjang pada anak-anak. (Gambar/sumber: Heho Health)
Para ahli mengingatkan bahwa inti dari menghindari hukuman fisik adalah mengendalikan reaksi diri orang tua. Dengan mengubah cara menangani situasi, risiko kekerasan terhadap anak bisa dikurangi dan hubungan keluarga yang lebih sehat dapat terbangun.