Kasus hepatitis A di Taiwan terus meningkat. Pusat Pengendalian Penyakit Taiwan (CDC) menyatakan bahwa sejak musim semi 2025, jumlah kasus hepatitis A akut meningkat signifikan, dengan total kasus terkonfirmasi mencapai angka tertinggi dalam hampir sembilan tahun dan belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. CDC mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, menjaga kebersihan makanan dan pribadi, serta menghindari perilaku seksual tidak aman guna mengurangi risiko infeksi.
Berdasarkan data pemantauan, pada tahun 2025 tercatat total 477 kasus hepatitis A terkonfirmasi, sebagian besar merupakan kasus domestik. Pasien didominasi oleh laki-laki, dengan kelompok usia 20–39 tahun sebagai yang terbanyak, menunjukkan risiko paparan dan infeksi yang lebih tinggi. CDC mencatat bahwa tingkat antibodi hepatitis A di masyarakat masih rendah, khususnya pada kelompok usia muda dan produktif.
CDC menjelaskan bahwa hepatitis A terutama menular melalui jalur fekal-oral, baik melalui konsumsi makanan yang terkontaminasi maupun kontak dekat dengan orang yang terinfeksi. Masa inkubasi berkisar antara 15 hingga 50 hari, dengan gejala umum meliputi demam, kelelahan, kehilangan nafsu makan, ketidaknyamanan perut, dan penyakit kuning. Meskipun sebagian besar pasien dapat sembuh sepenuhnya, lansia dan penderita penyakit hati kronis memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi.
Untuk menekan penyebaran, CDC mengimbau masyarakat mencuci tangan dengan benar, menggunakan alat saji saat makan bersama, dan menerapkan kebersihan seksual yang aman. Vaksinasi merupakan cara pencegahan paling efektif. Penyelesaian dua dosis vaksin memberikan perlindungan jangka panjang. Masyarakat tanpa antibodi atau yang termasuk kelompok berisiko tinggi disarankan mempertimbangkan vaksinasi mandiri guna menurunkan risiko infeksi.
Otoritas pengendalian penyakit mengimbau masyarakat untuk mencuci tangan dengan benar guna mencegah penyebaran lebih lanjut(Foto Aflo Images)