Musim kemarau yang diperkirakan lebih panjang dan kering akibat fenomena El Nino pada 2026 berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan sekaligus memperburuk kualitas udara di sejumlah wilayah Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan bahwa penumpukan polutan dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan gangguan kesehatan lainnya.
Epidemiolog sekaligus pakar kesehatan masyarakat dari Griffith University, Dicky Budiman, mengatakan masyarakat tidak perlu menghentikan kebiasaan berolahraga di luar ruangan. Namun, waktu, lokasi, dan intensitas olahraga sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kualitas udara.
Menurutnya, saat berolahraga frekuensi pernapasan meningkat sehingga tubuh menghirup lebih banyak udara. Jika kadar polutan seperti PM2.5 dan nitrogen dioksida sedang tinggi, jumlah zat pencemar yang masuk ke paru-paru juga akan meningkat sehingga manfaat olahraga dapat berkurang dan risiko gangguan kesehatan bertambah.
Karena itu, masyarakat disarankan memeriksa kualitas udara sebelum berolahraga, tidak hanya mempertimbangkan suhu atau cuaca. Ketika tingkat polusi tinggi, intensitas olahraga sebaiknya dikurangi atau dipindahkan ke waktu maupun lokasi dengan kualitas udara yang lebih baik.
Ia juga mengimbau masyarakat menghindari aktivitas olahraga di tepi jalan raya yang padat kendaraan atau di dekat sumber pencemaran untuk mengurangi paparan polutan udara.