Sejumlah pengemudi ojek online menilai kebijakan layanan berbayar dan program promosi yang diterapkan aplikator transportasi daring memberatkan posisi driver. Pasalnya, potongan biaya promosi yang diberikan kepada pelanggan dibebankan langsung pada pendapatan pengemudi dari layanan antar penumpang, barang, maupun makanan.
Beberapa driver menyampaikan bahwa skema tersebut mulai terasa dampaknya sejak pertengahan hingga akhir 2025. Pendapatan harian dinilai menurun, sehingga sebagian pengemudi harus menambah jam kerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Johan, pengemudi ojol berusia 48 tahun, mengatakan bahwa sebelum kebijakan layanan berbayar diterapkan, pengemudi masih dapat meningkatkan penghasilan dengan menjaga performa akun agar memperoleh lebih banyak pesanan. Namun, saat ini potongan menjadi signifikan ketika pelanggan menggunakan lebih dari satu program promo.
Ia menjelaskan bahwa pengemudi dapat dikenai potongan sekitar Rp 20.000 setelah menyelesaikan lebih dari 10 pesanan dengan promo tertentu. Selain itu, pengemudi juga didorong mengikuti program lain yang dibuka dalam beberapa sesi waktu, dengan potongan tambahan pada setiap sesi yang diikuti. Jika seluruh sesi diambil dalam satu hari, total pemotongan pendapatan bisa mencapai lebih dari Rp 30.000.
Akibat kondisi tersebut, Johan mengaku harus memperpanjang waktu bekerja hingga malam hari. Jika sebelumnya ia bekerja hingga sore, kini ia harus terus menarik order sampai malam agar tetap memperoleh pendapatan bersih yang mencukupi. Ia juga menilai bahwa meskipun program tersebut disebut bertujuan memudahkan driver mendapatkan order, persaingan antar-driver justru semakin ketat, baik dalam satu platform maupun antarplatform.