Saat suhu mulai turun, banyak orang berkumpul untuk menikmati sup bebek jahe, hot pot daging domba, atau ayam minyak wijen, karena tanpa makanan penghangat terasa kurang lengkap suasana musim dingin. Namun, tidak sedikit pula yang khawatir berat badan naik seiring dengan kebiasaan makan tersebut. Ahli gizi menyatakan bahwa konsumsi makanan penghangat di musim dingin bukanlah larangan, kuncinya ada pada pemilihan bahan dan cara makan yang tepat.
Menurut laman Facebook Sandy Love Healthy, sumber kalori tersembunyi yang umum pada makanan penghangat musim dingin berasal dari masakan dengan kandungan minyak dan natrium yang tinggi. Misoa minyak wijen, misalnya, menggabungkan karbohidrat olahan dan lemak, dengan satu porsi mendekati 450 kalori. Sementara itu, kuah seperti ayam minyak wijen, hot pot herbal, dan sup domba biasanya tinggi natrium, terlebih jika dimasak dengan banyak minyak, sehingga asupan kalori bisa meningkat tanpa disadari.
Ahli gizi menyarankan beberapa prinsip sederhana, seperti memilih makanan utuh dan mengurangi bahan olahan untuk hot pot. Perbanyak sayuran hijau, jamur, dan jamur kuping untuk meningkatkan rasa kenyang dan menstabilkan gula darah setelah makan. Jika masakan menggunakan alkohol, sebaiknya dibatasi, dan kuah cukup dicicipi saja, bukan diminum berlebihan.
Pilihan saus juga menjadi sumber kalori tersembunyi. Gunakan daun bawang, bawang putih, dan cabai dengan sedikit kecap atau cuka untuk menambah rasa, sambil menghindari saus berlemak tinggi seperti saus kacang atau minyak wijen. Ahli gizi menekankan bahwa dengan pendekatan yang tepat, makanan penghangat musim dingin dapat dinikmati dengan nyaman tanpa bertentangan dengan pengelolaan berat badan.
Sumber:Sandy Love Healthy 愛健康營養師 珊珊 Facebook