Seiring kebijakan pencegahan demam babi Afrika, pemerintah menetapkan tahun 2026 sebagai masa transisi dan mulai tahun 2027 melarang sepenuhnya penggunaan sisa makanan untuk pakan babi. Administrasi Pendidikan Nasional Taiwan berkoordinasi dengan Kementerian Lingkungan dan pemerintah daerah, serta mendorong sekolah memanfaatkan perubahan ini dengan mengintegrasikan pengelolaan sisa makanan ke dalam pendidikan pertanian pangan, lingkungan, dan pola makan sehat. Sejumlah sekolah telah mengubah sisa makanan menjadi sumber belajar dan mengembangkan model praktik di sekolah.
SD Qingjiang di Taipei memasang kotak kompos dan sistem “simbiosis cacing dan sayur” untuk mengolah sisa makan siang menjadi kompos, yang diintegrasikan dalam kurikulum agar siswa memahami siklus makanan dan ekosistem. SMP Nanlong di Kaohsiung mengaitkan pola makan sehat dengan daur ulang sisa makanan dalam pembelajaran sains dan lingkungan, serta memperluasnya ke kehidupan keluarga.
SD Fengyuan di Taitung memanfaatkan larva Black Soldier Fly untuk mengurai sisa makanan dan mengajak siswa merefleksikan hubungan pilihan konsumsi dan keberlanjutan lingkungan. SMA Huiwen di Taichung mengklasifikasi serta menyalurkan sisa makanan layak konsumsi kepada organisasi sipil untuk membantu tunawisma dan keluarga rentan, dengan sekitar 70% sisa layak konsumsi dimanfaatkan kembali setiap hari.
Administrasi Pendidikan Nasional akan terus mendorong praktik pengurangan sisa makanan seperti membeli secukupnya, mengelola dan berbagi makanan berlebih, serta memberi penghargaan kepada sekolah berprestasi dalam edukasi hemat pangan, guna memperkuat budaya sekolah yang mendukung keberlanjutan lingkungan.