Setelah memasuki masa menopause, banyak wanita menghadapi berbagai masalah ginekologi. Namun, karena merasa sungkan, tidak sedikit yang memilih untuk menahan diri. Dokter mengingatkan, apabila muncul gejala seperti sensasi terbakar di vagina, infeksi berulang, atau nyeri sesekali, bahkan mengalami inkontinensia urin saat tertawa, batuk, atau mengangkat beban berat, sebaiknya segera mencari pertolongan medis untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan mental.
Perubahan Fisik Selama Masa Menopause
Dr. Chen Guo-hu, Kepala Departemen Obstetri dan Ginekologi di Rumah Sakit Tzu Chi Taipei, menjelaskan bahwa menopause adalah fase menjelang dan setelah berhentinya menstruasi, biasanya terjadi pada usia 45 hingga 55 tahun, dengan rata-rata usia 51 tahun. Seiring dengan penurunan fungsi ovarium, produksi hormon wanita menurun, menyebabkan perubahan siklus menstruasi dan ketidakseimbangan hormon, yang dapat berdampak serius pada fisik dan psikologis, memicu &ldquosindrom menopause&rdquo.
Gejala umum mencakup gangguan menstruasi, masalah sistem reproduksi dan saluran kemih, gangguan pembuluh darah, perubahan kardiovaskular, masalah sistem saraf, gangguan urine, degenerasi tulang, dan perubahan kulit. Di antaranya, perubahan pada sistem reproduksi dan saluran kemih sering diabaikan karena sifatnya yang pribadi, sehingga banyak wanita memilih untuk menahannya.
Inkontinensia urine berkaitan dengan atrofi vagina masa menopause (Gambar/sumber: Heho Health)
Hubungan antara Atrofi Vagina dan Inkontinensia Urin
Vagina terdiri dari beberapa lapisan jaringan, termasuk lapisan mukosa, otot, dan jaringan ikat. Estrogen membantu menjaga elastisitas dan kesehatan dinding vagina serta mempertahankan lingkungan asam lemah (pH sekitar 3.6) untuk mencegah infeksi.
Saat menopause, fungsi ovarium menurun, kadar estrogen menurun, dinding mukosa vagina menipis, dan pH meningkat (setelah menopause dapat mencapai 5&ndash6), menyebabkan kondisi yang dikenal sebagai atrofi vagina. Ini memicu sensasi terbakar, infeksi berulang, bahkan rasa sakit saat berjalan atau berhubungan. Selain itu, melemahnya struktur penyangga uretra menyebabkan sebagian wanita mengalami inkontinensia urin saat tertawa, batuk, atau mengangkat barang berat.
Bagaimana Cara Mengatasi Atrofi Vagina dan Inkontinensia Urin?
Dr. Chen menegaskan, banyak wanita baru mencari pengobatan setelah gejalanya parah. Padahal, saat ini tersedia berbagai metode perawatan efektif dan cepat yang bisa dilakukan di klinik, antara lain:
- Gel Estrogen: Dioleskan setiap hari untuk meningkatkan ketebalan dan elastisitas mukosa vagina serta mengurangi gejala atrofi.
- Terapi Laser Vagina: Menggunakan probe 360 atau 90 derajat untuk menstimulasi sirkulasi darah lokal dan regenerasi kolagen, membantu mengatasi infeksi, atrofi, dan mengembalikan lingkungan asam vagina.
Pesan Dokter
Wanita menopause bisa mengalami berbagai ketidaknyamanan fisik dan mental. Jika mengalami gejala seperti sensasi terbakar di vagina, infeksi berulang, atau inkontinensia urin, jangan ragu untuk mencari bantuan medis. Penanganan yang tepat waktu tidak hanya meringankan gejala tetapi juga meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.
Dr. Kuo-Hu Chen, Kepala Departemen Obstetri dan Ginekologi di Rumah Sakit Tzu Chi Taipei (Gambar/sumber: Heho Health)