Provinsi Kalimantan Timur diperkirakan masih berada dalam periode musim hujan hingga Juni 2026. Puncak hujan diproyeksikan terjadi pada Desember 2025 hingga Januari 2026. Sebagai wilayah yang berada di dekat garis ekuator, Kaltim umumnya memiliki durasi musim hujan yang lebih panjang dibandingkan banyak daerah lain di Indonesia.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I SAMS Sepinggan Balikpapan, Kukuh Ribudiyanto, menjelaskan bahwa memasuki Desember, tren curah hujan meningkat di sebagian besar wilayah Kaltim. Namun, pada beberapa waktu terakhir, pola hujan sempat dipengaruhi siklon tropis sehingga mengurangi curah hujan di beberapa daerah.
“Wilayah tengah seperti Kutai Kartanegara serta Kutai Timur bagian tengah dan timur sempat mengalami penurunan curah hujan. Sebaliknya, wilayah utara seperti Berau masih mencatat curah hujan yang cukup tinggi,” ujarnya.
Meski begitu, Balikpapan tetap mengalami cuaca ekstrem yang memicu genangan di sejumlah titik. Kondisi serupa juga terjadi di Samarinda dan sebagian wilayah Paser.
Kukuh menambahkan bahwa potensi La Niña masih perlu mendapat perhatian, sebab anomali suhu permukaan laut menunjukkan arah menuju fenomena tersebut. “La Niña dapat meningkatkan suplai uap air di wilayah Indonesia, termasuk Kaltim, sehingga intensitas hujan pada musim penghujan kali ini dapat bertambah,” katanya.
BMKG terus memperbarui informasi melalui prakiraan musiman, bulanan, dasarian (10 harian), serta peringatan dini cuaca ekstrem. “Untuk potensi cuaca ekstrem, BMKG memberikan informasi hingga 3 hari ke depan. Dalam situasi tertentu, peringatan dapat dikeluarkan 1–3 jam sebelumnya,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III APT Pranoto BMKG Samarinda, Riza Arian Noor, menjelaskan bahwa Kaltim saat ini berada dalam periode musim hujan. Berdasarkan posisinya yang berada di garis ekuator, musim kemarau di wilayah ini cenderung singkat.
“Musim kemarau di Kaltim rata-rata hanya berlangsung sekitar 3 bulan, kecuali pada kondisi iklim kuat seperti El Niño pada 1997,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa durasi musim hujan kali ini dapat mencapai 6–7 bulan sehingga risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem perlu terus diwaspadai.