Setiap pertengahan April, berbagai negara di Asia Tenggara merayakan salah satu festival tradisional terpenting—Songkran. Periode ini bukan hanya perayaan, tetapi juga melambangkan awal tahun baru dan penataan kembali kehidupan, dengan suasana budaya yang terasa dari jalanan hingga kuil.
Songkran terutama dirayakan di Thailand, Laos, Kamboja, dan Myanmar, biasanya berlangsung dari 13 hingga 16 April. Secara tradisional, masyarakat saling menyiram air sebagai simbol membersihkan kesialan masa lalu dan menyambut awal yang baru.
Dalam aspek keagamaan, festival ini juga mencakup kunjungan ke kuil, memandikan patung Buddha, serta menyiram air kepada orang tua sebagai bentuk penghormatan dan doa. Seiring waktu, festival ini juga berkembang dengan unsur pariwisata dan hiburan, seperti pesta air dan acara musik yang menarik wisatawan.
Namun, Songkran bukan hanya acara wisata, tetapi juga memiliki makna budaya yang mendalam. Bagi banyak masyarakat Asia Tenggara, ini adalah momen pulang kampung dan berkumpul dengan keluarga, mirip dengan Tahun Baru Imlek.
Budaya ini juga berkembang di Taiwan. Dengan meningkatnya jumlah imigran baru dari Asia Tenggara, banyak komunitas yang tetap merayakan Songkran melalui berbagai kegiatan dan ritual, menjadikannya bagian dari masyarakat multikultural.
Di antara pariwisata dan tradisi, Songkran bukan hanya tentang keseruan, tetapi juga tentang ingatan budaya lintas negara yang terus hidup di Taiwan.