Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) Taiwan baru-baru ini mengumumkan kasus pertama ensefalitis Jepang tahun ini. Pasien adalah seorang wanita berusia lebih dari 60 tahun dari Kecamatan Minxiong, Kabupaten Chiayi, yang tidak memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri. Ia dirawat di rumah sakit setelah mengalami demam, penurunan kesadaran, dan koma, lalu dikonfirmasi terinfeksi ensefalitis Jepang.
Menurut CDC, pasien sebagian besar beraktivitas di sekitar rumah yang berdekatan dengan sawah, saluran irigasi, peternakan babi, dan peternakan unggas. Otoritas kesehatan telah memasang perangkap nyamuk serta meningkatkan edukasi kesehatan dan pemantauan di wilayah tersebut.
Data menunjukkan Taiwan mencatat satu kasus ensefalitis Jepang pada tahun 2026. Musim penularan berlangsung dari Mei hingga Oktober, dengan puncak pada Juni hingga Juli. Meski kasus lebih banyak ditemukan pada orang berusia di atas 40 tahun, semua kelompok usia tetap berisiko.
Ensefalitis Jepang ditularkan terutama oleh nyamuk Culex yang berkembang biak di sawah, kolam, dan saluran irigasi. Sebagian besar penderita tidak menunjukkan gejala, tetapi kasus berat dapat menyebabkan gangguan kesadaran, koma, bahkan kematian.
CDC menegaskan bahwa vaksinasi merupakan cara paling efektif untuk mencegah ensefalitis Jepang. Anak-anak di Taiwan dijadwalkan menerima dosis pertama pada usia 15 bulan dan dosis kedua 12 bulan kemudian. Orang tua diimbau memastikan anak mendapat vaksin sesuai jadwal, sementara warga yang tinggal di dekat sawah atau peternakan perlu memperkuat langkah pencegahan gigitan nyamuk.