Data terbaru dari World Instant Noodles Association (WINA) menunjukkan konsumsi mi instan dunia telah mencapai 123 miliar porsi per tahun, menjadi angka tertinggi yang pernah tercatat.
Nilai pasar industri mi instan diperkirakan terus meningkat, dari sekitar US$64,67 miliar pada 2025 menjadi US$98,46 miliar pada 2032.
Nissin Foods Group menyatakan bahwa mi instan tetap diminati karena menawarkan rasa yang disukai banyak orang, mudah disiapkan, tahan disimpan, terjangkau, serta memenuhi aspek keamanan pangan. Produk ini telah berkembang dari makanan praktis menjadi pilihan sehari-hari bagi masyarakat di berbagai negara.
Menurut WINA, China menjadi konsumen terbesar dengan 43,8 miliar porsi per tahun. Indonesia berada di posisi kedua dengan 14,6 miliar porsi, disusul India dengan 8,3 miliar porsi.
WINA juga menilai budaya konsumsi mi di kawasan Asia Tenggara serta meningkatnya kebutuhan akan makanan praktis ikut mendorong pertumbuhan pasar. Sejumlah penelitian menyebut kombinasi garam, gula, lemak, dan karbohidrat pada makanan ultra-proses turut meningkatkan daya tarik produk bagi konsumen.
Chef David Lai, pemilik restoran yang menempati peringkat ke-24 Asia's 50 Best Restaurants 2026, mengatakan mi instan tetap menjadi pilihan populer karena praktis, terjangkau, dan dapat disiapkan hanya dalam beberapa menit.