Darah dan urine disebut menyimpan banyak "rahasia" tentang pola makan seseorang. Utamanya, terkait konsumsi makanan "praktis" (junk food).
Untuk memahami lebih jauh, tim peneliti menganalisis sampel darah dan urine dari 718 peserta dewasa berusia 50 hingga 74 tahun yang terlibat dalam studi Interactive Diet and Activity Tracking in AARP (IDATA). Para peserta diminta mencatat asupan makanan mereka selama 24 jam di beberapa waktu selama 12 bulan, sekaligus memberikan sampel darah dan urine setiap enam bulan sekali.
Para peneliti menyatakan bahwa tanda-tanda metabolit ini tidak hanya mencerminkan tingginya konsumsi makanan ultra-olahan, tetapi juga secara tidak langsung menunjukkan rendahnya asupan makanan utuh. Peserta yang mengonsumsi lebih banyak UPF cenderung memiliki tingkat konsumsi serat, vitamin, dan mineral yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang mengonsumsi UPF dalam jumlah lebih sedikit.
Makanan ultra-proses menyumbang sebagian besar asupan kalori penduduk Amerika Serikat.
Penemuan biomarker ini berpotensi mengubah cara kita mempelajari pola makan dan kesehatan. Metode ini menyediakan cara yang lebih akurat bagi peneliti untuk mengukur jumlah makanan ultraolahan yang dikonsumsi  seseorang tanpa harus mengandalkan laporan mandiri, yang sering kali rentan terhadap kesalahan atau bias. Temuan ini dinilai menjadi sangat penting di tengah perubahan cepat menuju sistem pangan industri yang didominasi oleh produk-produk praktis, tahan lama, dan sangat menggugah selera.