數據顯示,印尼近年來的結婚數量呈現下降趨勢。根據印尼中央統計局(BPS)資料,2014年全國共有2,110,776件婚姻登記。
Data menunjukkan bahwa jumlah pernikahan di Indonesia mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2014 tercatat sebanyak 2.110.776 peristiwa pernikahan di Indonesia.
該數字在2023年下降至1,577,255件。超過50萬件婚姻的減少,是在近十年間逐步發生的。
Angka tersebut kemudian turun menjadi 1.577.255 pada tahun 2023. Penurunan lebih dari setengah juta pernikahan ini terjadi secara bertahap selama hampir satu dekade.
在2015年至2018年間,結婚數量曾出現波動,但始終未能回到十年前的水準。2019年之後,下降趨勢更加明顯。
Pada periode 2015 hingga 2018 jumlah pernikahan sempat mengalami fluktuasi, tetapi tidak kembali mencapai angka pada awal dekade. Setelah tahun 2019, tren penurunan terlihat semakin jelas.
IPB大學生態人類學院家庭與消費科學系(IKK)研究員兼講師Risda Rizkillah表示,結婚率下降受到多項相互關聯因素影響。
Peneliti dan dosen Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK) Fakultas Ekologi Manusia IPB University, Risda Rizkillah, mengatakan bahwa penurunan angka pernikahan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan.
她指出,對部分年輕世代而言,婚姻已不再被視為社會地位或成就的象徵。許多年輕人更傾向先專注於教育、職涯與個人經歷,再決定是否結婚。
Menurutnya, bagi sebagian generasi muda saat ini, pernikahan tidak lagi dipandang sebagai simbol status sosial atau prestise. Banyak anak muda yang lebih memilih fokus pada pendidikan, karier, serta pengalaman pribadi sebelum memutuskan untuk menikah.
此外,經濟條件也是重要考量。生活成本上升、財務壓力以及工作不穩定,使部分人選擇延後結婚,直到經濟狀況較為穩定。
Selain itu, kondisi ekonomi juga menjadi pertimbangan penting. Tingginya biaya hidup, keterbatasan finansial, serta ketidakpastian pekerjaan membuat sebagian orang memilih menunda pernikahan hingga kondisi ekonomi lebih stabil.
Risda說明,是否具備滿足家庭基本需求的能力,往往被視為建立家庭前的重要條件。
Risda menjelaskan bahwa kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga sering dianggap sebagai syarat penting sebelum seseorang memutuskan untuk membangun rumah tangga.
教育程度與職涯導向同樣影響結婚決策。教育年限延長,以及追求職涯穩定,使部分人延後組建家庭。
Faktor pendidikan dan orientasi karier juga turut memengaruhi keputusan menikah. Masa pendidikan yang lebih panjang serta keinginan mencapai stabilitas karier membuat sebagian orang menunda pembentukan keluarga.
此外,社會規範的改變也影響大眾對婚姻的看法。對於同居等非婚關係的接受度提升,也逐漸改變了婚姻制度的意義。
Selain itu, perubahan norma sosial juga berperan dalam memengaruhi pandangan masyarakat terhadap pernikahan. Meningkatnya penerimaan terhadap hubungan non-pernikahan seperti kohabitasi turut mengubah cara pandang terhadap institusi pernikahan.
社群媒體上的內容,包括「marriage is scary」等說法,也被認為會影響年輕世代對婚姻的認知與態度。
Konten yang beredar di media sosial, termasuk narasi seperti “marriage is scary”, juga dinilai dapat memengaruhi persepsi generasi muda terhadap pernikahan.