Seiring anak dan remaja makin sering memakai media sosial dan game online, penipuan melalui pertemanan online menjadi perhatian orang tua dan sekolah. Divisi Reserse Kriminal Kepolisian Kabupaten Taitung baru-baru ini mengadakan kegiatan edukasi perlindungan anak, memakai stan bazar, permainan interaktif dan contoh kasus untuk membantu pelajar mengenali modus penipuan online.
Polisi menjelaskan, pelaku bisa memakai akun asing untuk membangun kepercayaan melalui obrolan, pujian atau kedekatan. Setelah itu mereka dapat memakai alasan kesulitan ekonomi, uang jaminan akun atau poin game yang terkunci, lalu meminta anak membeli poin game, memberikan nomor seri, bahkan membujuk anak memberikan PIN kartu ATM orang tua.
Berbeda dari penipuan investasi atau belanja yang sering menyasar orang dewasa, kasus anak dan remaja lebih banyak terkait pertemanan online, game dan privasi. Polisi memakai kuis dan permainan pos untuk mengubah modus umum menjadi soal situasi, agar pelajar memahami bahwa permintaan uang, poin game, kata sandi atau gambar pribadi bisa menjadi tanda bahaya.
Jika anak tiba-tiba meminta uang di luar kebiasaan, sering membeli poin game atau menyembunyikan pesan ponsel, orang tua sebaiknya bertanya dengan perhatian terlebih dahulu. Keluarga juga dapat membuat batasan pertemanan online dan mengingatkan anak agar tidak memberi data pribadi, foto, video, kata sandi akun atau informasi keuangan keluarga.
Jika menemukan dugaan penipuan, masyarakat dapat menelepon hotline anti-penipuan 165 untuk mengecek. Dalam keadaan darurat, hubungi 110 untuk melapor. Edukasi serupa akan diperluas ke sekolah dan kegiatan lokal.