Berangkat dari Gongliao, Berdialog dengan Dunia: Perjalanan Seorang Kepala Sekolah Mewujudkan Impian Pendidikan
Penulis / Yang Hsiao-Mei, Kepala Sekolah SD Gongliao, Kota New TaipeiKetika pertama kali menginjakkan kaki di Taiwan pada November 1979, saya dipenuhi rasa bingung dan tidak tahu seperti apa masa depan yang menanti. Saya tidak pernah membayangkan bahwa tempat ini akan menjadi rumah tempat saya belajar, bertumbuh, bekerja, menikah, dan membesarkan keluarga. Saat menoleh kembali ke perjalanan hidup saya, saya menyadari bahwa keterbatasan ekonomi, latar belakang keluarga, dan perbedaan budaya sering kali menjadi penghalang yang tidak terlihat bagi anak-anak. Pengalaman inilah yang membuat saya bertekad mengabdikan diri pada dunia pendidikan dan menjadi jembatan agar setiap anak mampu melampaui keterbatasan serta berani mengejar impian mereka.Bagi saya, pendidikan internasional bukan sekadar tren, melainkan komitmen yang saya pegang teguh. Anak-anak di daerah terpencil membutuhkan lebih dari sekadar pengetahuan di ruang kelas; mereka juga membutuhkan kesempatan untuk melihat dunia. White Paper Pendidikan Internasional 2.0 yang digagas Kementerian Pendidikan Taiwan bertujuan membangun warga yang memiliki wawasan global sekaligus membuka lebih banyak kesempatan bagi siswa di daerah terpencil dan anak-anak generasi kedua penduduk baru. Pendidikan internasional menghubungkan nilai-nilai lokal dengan perspektif global serta membantu setiap anak menemukan nilai dirinya. Pada Tahun Ajaran 2023, saya dipercaya memimpin SD Gongliao yang hanya memiliki 26 siswa. Kami mulai membangun lingkungan belajar yang lebih terbuka melalui peta dwibahasa, papan petunjuk, dan berbagai fasilitas yang mencerminkan semangat internasional. Namun saya percaya bahwa pendidikan internasional yang sesungguhnya tidak hanya lahir dari pembelajaran bahasa, melainkan dari perjumpaan dan interaksi antarmanusia.Benih mimpi tumbuh melalui perjumpaan lintas budaya. Pada 2021, SD Gongliao menjalin hubungan sekolah saudara dengan Rapids Landing Primary School dan Margaret River Senior High School di Australia. Awalnya pertukaran budaya hanya dapat dilakukan secara daring karena jarak. Namun ketika kepala sekolah, guru, dan siswa dari Australia datang langsung ke Gongliao pada 31 Oktober 2022, saya sangat terharu. Saya melihat anak-anak yang biasanya pemalu dengan berani mengajarkan permainan Chinese yo-yo kepada teman-teman mereka dan bermain bersama di lapangan sekolah. Dalam satu hari, rasa percaya diri mereka tumbuh dengan nyata. Kesadaran bahwa mereka memiliki teman di negara lain menjadi awal lahirnya impian yang lebih besar. Kerja sama kami kemudian berkembang melalui Taiwan International Youth Exchange Association, yang mengundang siswa SMA dari Utah, Amerika Serikat, untuk datang ke sekolah. Mereka bermain sepak bola, berbagi cerita tentang kehidupan sehari-hari, sementara siswa Gongliao memperkenalkan berbagai tanaman khas yang tumbuh di lingkungan sekolah. Melalui interaksi yang terus berlangsung, anak-anak semakin terbiasa berkomunikasi dengan teman-teman dari berbagai negara dan menjadikan SD Gongliao sebagai lingkungan belajar yang terbuka serta inklusif.Siswa SMA dari Utah, Amerika Serikat, mengunjungi SD Gongliao untuk tur kampus dan pertukaran budaya. (Foto: Kepala Sekolah Yang Hsiao-Mei, SD Gongliao)Kemampuan menjadi warga dunia dimulai dari memahami "Siapa saya?" dan "Dari mana saya berasal?". Sebagai kepala sekolah pertama di Taiwan yang berasal dari keluarga penduduk baru, saya selalu bermimpi membawa anak-anak dari daerah terpencil keluar dari Taiwan untuk melihat dunia secara langsung. Bagi siswa generasi kedua penduduk baru, perjalanan ini juga menjadi kesempatan untuk kembali mengenal tanah kelahiran ibu mereka dan memahami akar budaya keluarganya. Mimpi ini menjadi kenyataan berkat dukungan Yu Rong-Ji Education Foundation. Pada Maret 2025, Direktur Eksekutif Shen Chung-Yuan mendukung penuh rencana kami untuk membawa siswa "belajar di kampung halaman leluhur mereka". Pada Mei 2025, saya memimpin rombongan guru, orang tua, dan siswa ke Hanoi, Vietnam, untuk melakukan pertukaran dengan SD Nguyen Tat Thanh sekaligus menandatangani Nota Kesepahaman (MOU). Setelah menjalani persiapan budaya selama beberapa bulan, para siswa mampu memperkenalkan diri dengan percaya diri menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Vietnam dasar. Salah satu siswa, Heng-Yu, mengatakan bahwa meskipun awalnya gugup, dukungan dari teman Vietnam membuatnya berani memperkenalkan ekosistem Satoyama–Satokawa (hutan dan sungai) yang dikelola secara berkelanjutan di kampung halamannya menggunakan bahasa Inggris dan gerakan tangan. Pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa berkomunikasi dengan dunia ternyata tidak sesulit yang dibayangkan.Keberhasilan dua program pertukaran internasional ini semakin menguatkan keyakinan saya bahwa pendidikan bukan hanya tentang membawa anak keluar dari ruang kelas, tetapi juga memberi mereka keberanian untuk melangkah ke dunia. Pencapaian ini terwujud berkat dukungan Kementerian Pendidikan, dinas pendidikan, dunia usaha, dan para orang tua. Melalui pendidikan internasional, siswa Gongliao tidak lagi hanya menjadi penerima pengetahuan, tetapi juga menjadi penghubung yang aktif dengan dunia. Melihat mereka menjelajahi keindahan alam Ha Long Bay dan membangun persahabatan dengan siswa dari berbagai negara membuat saya percaya bahwa batas-batas pendidikan di daerah terpencil perlahan mulai hilang. Sebagai kepala sekolah, saya akan terus mengembangkan pendidikan internasional agar setiap anak tetap mencintai tanah kelahirannya sekaligus percaya diri berdialog dengan dunia. Itulah janji terbesar yang ingin saya berikan kepada mereka, sekaligus impian terindah dalam perjalanan saya sebagai pendidik.Siswa SD Gongliao mengunjungi pasar lokal saat mengikuti program pertukaran di Vietnam untuk mengenal budaya setempat. (Foto: Kepala Sekolah Yang Hsiao-Mei, SD Gongliao)