Karhutla Riau Capai 5.865 Hektare, Empat Wilayah dengan Hotspot Tinggi Jadi Perhatian
Penanganan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Provinsi Riau kembali diperkuat. Empat wilayah dengan jumlah hotspot relatif tinggi menjadi perhatian, sementara petugas di lapangan diminta segera memeriksa setiap titik untuk mencegah kebakaran meluas.Kapolda Riau Herry Heryawan bersama Pangdam XIX/Tuanku Tambusai Agus Hadi Waluyo turun langsung ke Kecamatan Dayun, Kabupaten Siak, pada 5 September 2026 untuk mengecek kondisi karhutla dan proses penanganannya.Pengecekan dilakukan di areal PT Bumi Siak Pusako. Kegiatan tersebut turut melibatkan Polres Siak, unsur pemerintah daerah, Manggala Agni, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta relawan Masyarakat Peduli Api (MPA).Herry mengatakan pengecekan dilakukan untuk mengetahui kondisi terbaru di lapangan, memastikan kesiapan personel dan peralatan, serta melihat apakah proses pemadaman dan pendinginan telah berjalan secara optimal.Untuk wilayah lain yang terdeteksi memiliki hotspot, jajaran kewilayahan juga telah diperintahkan melakukan pemeriksaan langsung. Setiap indikasi kebakaran diminta segera ditindaklanjuti agar api tidak berkembang menjadi lebih luas.Menurut laporan, luas lahan yang terbakar di Riau hingga awal September 2026 telah mencapai 5.865,32 hektare.Upaya pencegahan kemudian diperkuat terutama di desa rawan karhutla, kawasan perkebunan, lahan gambut serta lokasi yang sebelumnya pernah mengalami kebakaran.Empat wilayah mendapat perhatian khusus berdasarkan jumlah hotspot, yaitu Indragiri Hulu dengan 59 hotspot, Indragiri Hilir sebanyak 48 hotspot, Pelalawan 22 hotspot dan Siak 20 hotspot.Namun, polisi menegaskan bahwa data hotspot tidak berarti seluruh titik tersebut merupakan kebakaran aktif. Petugas di wilayah telah diminta melakukan ground check untuk memastikan kondisi sebenarnya.Jika ditemukan api, petugas harus segera melakukan pemadaman dan memastikan proses pendinginan dilakukan hingga tuntas untuk mencegah api kembali muncul.Selain penanganan kebakaran, sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat juga akan ditingkatkan setelah masih ditemukan praktik membuka atau mengelola lahan dengan cara membakar.Polisi meminta sosialisasi larangan membakar lahan dilakukan hingga tingkat desa dan dusun. Petugas juga didorong membantu masyarakat mencari alternatif pengelolaan lahan yang sesuai dengan kondisi setempat serta memberikan dukungan peralatan apabila memungkinkan.Menurut Herry, pendekatan pencegahan tidak cukup hanya dengan melarang pembakaran. Masyarakat juga perlu mendapat alternatif agar tetap dapat mengelola lahan secara aman tanpa memicu karhutla.Penegakan hukum tetap berjalan bersamaan dengan upaya pencegahan dan pemadaman.Hingga saat ini, Polda Riau dan jajaran telah menangani 41 kasus karhutla serta menetapkan 44 orang sebagai tersangka. Polisi menyatakan setiap kasus yang ditemukan memiliki unsur pidana akan diproses sesuai ketentuan hukum.Penanganan karhutla melibatkan TNI-Polri, BPBD, Manggala Agni, pemerintah daerah, perusahaan, relawan dan masyarakat.Pemerintah dan aparat saat ini memprioritaskan pencegahan munculnya kebakaran baru, pemadaman setiap api yang ditemukan, pencegahan perluasan kebakaran, serta perlindungan keselamatan dan kesehatan personel yang bekerja di lapangan.