Untuk mempromosikan keberagaman budaya Asia Tenggara, ibu imigran asal Malaysia, Zheng Simin, bersama dua anaknya Lin Li-An dan Lin Yi-Sheng, menyelesaikan buku cerita bergambar dwibahasa Mandarin–Melayu berjudul “Si Monyet Kecil dan Kancil”. Dengan tokoh fabel klasik Malaysia “Kancil” sebagai tokoh utama, buku ini mengubah kisah budaya Asia Tenggara menjadi bacaan yang cocok untuk dibaca bersama orang tua dan anak melalui proses kreasi keluarga yang dilakukan bersama.
Zheng Simin menyampaikan bahwa cerita merupakan jendela penting bagi anak-anak dalam mengenal dunia, sekaligus alat utama dalam mengembangkan kemampuan bahasa, pemahaman emosi, dan empati. Ia mengenang masa kecilnya yang sering mendengarkan fabel dari tanah kelahirannya, namun jarang melihat cerita klasik Asia Tenggara dalam lingkungan membaca keluarga di Taiwan. Oleh karena itu, ia mengikuti “Program Pemberdayaan Komunitas Imigran Baru Kabupaten Pingtung” yang dipromosikan oleh Departemen Urusan Kebudayaan Pemerintah Kabupaten Pingtung, dan bersama anak-anaknya menciptakan kembali fabel-fabel tersebut.
Buku “Si Monyet Kecil dan Kancil” menggambarkan seekor monyet nakal yang sering mengganggu hewan lain di hutan, serta bagaimana Kancil yang melambangkan kecerdikan dan kebaikan hati menggunakan kebijaksanaan untuk mengubah perilaku monyet tersebut. Buku ini telah memperoleh kode dari Perpustakaan Nasional Taiwan dan didistribusikan ke berbagai perpustakaan di Kabupaten Pingtung serta sekolah-sekolah yang membuka kelas bahasa Melayu, menjadi sumber bacaan baru bagi anak-anak untuk mengenal budaya Asia Tenggara.
Ilustrasi dikerjakan oleh Lin Li-An, yang saat ini bersekolah di jurusan desain multimedia di SMA Ping Rong. Ia menyatakan bahwa untuk mendekatkan gambar dengan isi cerita, ia pergi ke lapangan untuk mengambil foto dan mencari referensi, dengan keseluruhan proses, mulai dari perancangan hingga pencetakan memakan waktu tiga bulan. Departemen Urusan Kebudayaan menyatakan bahwa kreasi keluarga imigran yang berfokus pada fabel, buku bergambar, dan bahasa memungkinkan budaya multikultural berakar secara lokal dan membuka lebih banyak kemungkinan bagi kegiatan membaca bersama keluarga.