Satu Gitar, Satu Lagu, dan Masa Muda Mereka Sendiri: Grup Musik Generasi Kedua Xin Xiangyang Menciptakan Identitas Lewat Musik
Penulis: Pan Yu-shan/Ketua Asosiasi Xin Xiangyang Kota TainanSatu Gitar, Menyuarakan Masa Muda Sendiri Grup Musik Generasi Kedua Xin Xiangyang Menciptakan Jati Diri Unik melalui Musik“Kami tidak berbeda dari siapa pun. Kami bisa seperti yang lain, sekaligus menciptakan jati diri yang unik.”Inilah harapan yang dimiliki oleh empat siswa SMA anggota Grup Musik Generasi Kedua Penduduk Baru, Xin Xiangyang. Zhang Chenyu, Gao Zixuan, Hou Jinghan, dan Xiao Weizhan adalah empat siswa SMA yang sama-sama menyukai musik. Mereka membentuk sebuah kelompok musik ketika duduk di kelas 1 SMA karena memiliki minat yang sama. Berawal dari bermain gitar dan bernyanyi di lingkungan sekolah, mereka perlahan mulai tampil di luar sekolah dan hadir di tengah masyarakat. Mereka juga kemudian mendapat undangan dari berbagai pihak untuk mengikuti pertunjukan musik.Zhang Chenyu dan Hou Jinghan merupakan anak dari penduduk baru asal Vietnam, Gao Zixuan merupakan generasi kedua dari keluarga imigran asal Tiongkok daratan, sedangkan Xiao Weizhan adalah anak Taiwan. Perbedaan latar belakang keluarga tidak menjadi jarak di antara mereka. Sebaliknya, musik membuat keempat anak muda ini menemukan bahasa yang sama. Sebuah gitar dan beberapa lagu membuat mereka berkembang dari sekadar teman sekelas menjadi rekan satu tim, sekaligus menghadirkan wajah multikulturalisme yang paling alami di panggung masa muda.Bagi Asosiasi Xin Xiangyang Kota Tainan, mendampingi generasi berikutnya dari keluarga penduduk baru serta melihat anak-anak menemukan minat dan arah mereka sendiri merupakan hal yang sangat penting. Grup Musik Generasi Kedua Xin Xiangyang berawal dari lingkungan sekolah, dan asosiasi turut mendampingi mereka dalam mengumpulkan pengalaman melalui latihan dan pertunjukan. Melihat mereka berkembang dari anak-anak yang pemalu dan gugup menjadi anak muda yang mampu tampil dengan percaya diri di atas panggung semakin meyakinkan kami bahwa ketika anak-anak diberi kesempatan untuk menunjukkan kemampuan mereka, mereka dapat menemukan jalan mereka sendiri dengan cara mereka sendiri.Berawal dari Sekolah, Sekelompok Anak Menemukan Irama BersamaKelas 1 SMA merupakan tahap penting bagi banyak anak muda untuk mulai mengeksplorasi minat dan membangun hubungan dengan orang lain. Bagi Grup Musik Generasi Kedua Xin Xiangyang, musik menjadi titik awal yang menyatukan mereka. Mulai dari belajar gitar dan berlatih bernyanyi hingga berdiskusi mengenai lagu dan aransemen, setiap latihan membutuhkan kerja sama keempat anggota. Ada yang bermain gitar, ada yang bernyanyi; ada yang bertanggung jawab atas melodi, sementara yang lain memperhatikan keseluruhan irama. Keberhasilan membawakan sebuah lagu secara utuh tidak pernah bergantung pada penampilan satu orang saja, melainkan pada kekompakan seluruh tim. Melalui latihan yang dilakukan berulang kali, mereka belajar mendengarkan dan menunggu satu sama lain; belajar mengekspresikan diri sekaligus memberi ruang bagi orang lain untuk menunjukkan kemampuannya. Bagi keempat siswa SMA ini, kegiatan tersebut bukan sekadar latihan musik, tetapi juga pelajaran kehidupan yang nyata. Dari sekolah menuju panggung, rasa percaya diri mereka tumbuh melalui setiap pertunjukan. Ketika minat mereka perlahan berkembang menjadi keterampilan, keempat anak muda ini mulai menerima undangan dari berbagai pihak untuk tampil dalam berbagai kegiatan di sejumlah tempat.**Setiap Kali Naik ke Panggung, Selalu Ada Tantangan Baru.**Menghadapi tempat dan penonton yang berbeda, mereka harus mempersiapkan daftar lagu terlebih dahulu dan latihan berulang kali. Mereka juga harus belajar mengatasi rasa gugup serta menghadapi situasi tak terduga yang mungkin terjadi selama pertunjukan. Dari awalnya merasa malu dan gugup hingga kemudian mampu memegang gitar, berdiri di depan mikrofon dan menyanyikan lagu dengan lebih alami, mereka perlahan menyadari bahwa mereka juga mampu berdiri di bawah sorotan lampu panggung. Mungkin, hasil terbesar yang diberikan panggung kepada mereka bukanlah tepuk tangan, melainkan rasa percaya diri yang muncul dari keyakinan bahwa “Saya bisa melakukannya.” Keberhasilan dalam satu pertunjukan membuat mereka semakin berani menghadapi panggung berikutnya, sementara kesalahan menjadi pengalaman untuk berkembang pada kesempatan berikutnya. Demikianlah, satu pertunjukan demi satu pertunjukan perlahan menjadi jejak pertumbuhan mereka.Vietnam dan Taiwan Bertemu Secara Alami dalam Kehidupan MerekaZhang Chenyu dan Hou Jinghan merupakan anak dari penduduk baru asal Vietnam. Ayah mereka berasal dari Vietnam, sementara mereka tumbuh dan mendapatkan pendidikan di Taiwan. Latar belakang kehidupan ini memberi mereka kesempatan untuk mengenal berbagai budaya sejak kecil. Bagi mereka, Vietnam bukan sekadar sebuah negara di peta, tetapi juga dapat berarti kenangan keluarga, kisah tentang kerabat, budaya makanan dan pengalaman kehidupan sehari-hari. Sementara itu, Taiwan adalah tempat mereka tumbuh, belajar dan mengejar impian.Dua budaya dalam kehidupan mereka tidaklah harus memilih salah satu, melainkan dapat hadir secara bersamaan. Hal ini memberi generasi kedua dari penduduk baru sudut pandang yang unik, sehingga mereka dapat memahami dunia dari perspektif budaya yang berbeda dan memiliki lebih banyak kesempatan untuk berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai latar belakang. Namun, mereka tidak ingin dirinya hanya didefinisikan oleh sebutan “generasi kedua penduduk baru”. Mereka berharap orang lain melihat mereka sebagai sekelompok siswa SMA yang menyukai musik, mau bekerja keras dan berani tampil di atas panggung.“Kami Tidak Berbeda” Adalah Bentuk Kepercayaan Diri sekaligus Pilihan“Kami tidak berbeda dari siapa pun. Kami bisa seperti yang lain, sekaligus menciptakan jati diri yang unik.” Kalimat ini merupakan ungkapan paling langsung dari cara anak-anak muda tersebut memandang identitas mereka.“Tidak berbeda” bukan berarti menyangkal latar belakang budaya mereka. Mereka ingin masyarakat melihat bahwa, seperti semua anak muda lainnya, mereka memiliki minat, impian dan hak untuk memilih jalan hidup mereka sendiri. Mereka dapat belajar, mengikuti kegiatan klub, bermain musik bersama teman, serta tampil di berbagai panggung melalui usaha mereka sendiri. Sementara itu, “menciptakan jati diri yang unik” menunjukkan bahwa pengalaman hidup setiap orang layak dihargai. Latar belakang keluarga sebagai anak dari penduduk baru, pengalaman tumbuh di Taiwan serta perjumpaan dengan berbagai budaya semuanya menjadi bagian dari kehidupan mereka. Perbedaan tersebut tidak perlu disembunyikan, tetapi juga tidak perlu dibesar-besarkan. Perbedaan dapat hadir secara alami sebagai bagian dari diri mereka.Multikulturalisme Bukan Label, Melainkan Kemampuan untuk Terhubung dengan DuniaDi tengah globalisasi dan semakin besarnya perhatian terhadap keberagaman budaya, kemampuan memahami budaya yang berbeda, menghormati sudut pandang yang berbeda serta bekerja sama dengan orang-orang dari berbagai latar belakang merupakan kemampuan yang penting. Grup Musik Generasi Kedua Xin Xiangyang membangun pengalaman lintas budaya mereka melalui interaksi sehari-hari. Keempat anak muda tersebut tidak pernah sengaja membedakan satu sama lain karena latar belakang keluarga mereka. Mereka berlatih, berdiskusi dan tampil bersama dalam satu tim, sekaligus menghadapi rasa gugup dan tantangan di atas panggung bersama-sama. Musik membuat perbedaan budaya terasa tidak lagi berjarak. Ketika keempatnya berdiri di atas panggung, yang pertama kali dilihat penonton adalah empat siswa SMA yang tampil dengan sungguh-sungguh. Mungkin, inilah bentuk multikulturalisme yang paling alami: tidak perlu dengan sengaja menekankan perbedaan, dan tidak perlu pula menuntut semua orang menjadi sama persis. Setiap orang dapat membawa keunikan masing-masing dan bersama-sama menciptakan kemungkinan baru.Dari sebuah klub sekolah hingga menjadi panggung bagi masa muda. Sejak membentuk klub ketika duduk di kelas 1 SMA, Grup Musik Generasi Kedua Xin Xiangyang terus mengumpulkan pengalaman melalui berbagai pertunjukan. Bagi mereka saat ini, grup musik tersebut mungkin masih menjadi salah satu bagian dari perjalanan masa muda, tetapi perjalanan ini telah memberi mereka banyak pengalaman berharga. Mereka belajar bertanggung jawab karena sebuah tim membutuhkan setiap anggota untuk datang tepat waktu dan mempersiapkan diri dengan serius. Mereka belajar bekerja sama karena sebuah lagu membutuhkan keempat anggota untuk menyelesaikannya bersama. Mereka belajar percaya diri karena tampil di panggung membutuhkan keberanian. Mereka juga belajar menghargai orang lain karena setiap orang memiliki suara yang berbeda. Semua kemampuan ini dapat menjadi dasar penting bagi mereka ketika kelak melangkah ke tengah masyarakat.Menulis Kisah Generasi Taiwan Berikutnya dengan Cara Mereka SendiriKisah generasi kedua dari keluarga penduduk baru seharusnya tidak hanya berbicara tentang “dari mana mereka berasal”. Yang lebih penting adalah apa yang sedang mereka lakukan sekarang dan ingin menjadi seperti apa mereka di masa depan. Dengan gitar dan suara mereka, mereka menapaki jalan masa muda dengan cara mereka sendiri. Perbedaan tidak membuat mereka terpisah, justru membuat mereka belajar lebih banyak. Mereka berdiri di panggung yang sama, bernyanyi dan tumbuh bersama, sekaligus menunjukkan kepada lebih banyak orang semangat generasi muda saat ini.Mungkin suatu hari mereka akan melanjutkan pendidikan di sekolah yang berbeda, tinggal di kota yang berbeda, bahkan memilih profesi yang berbeda. Namun, pengalaman berdiri bersama di atas panggung saat ini akan menjadi kenangan berharga dalam masa muda mereka. Pesan yang ingin mereka sampaikan sebenarnya sederhana: Kami mungkin berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda, tetapi kami memiliki hak yang sama untuk mengejar impian. Kami mungkin berasal dari budaya yang berbeda, tetapi kami dapat bekerja sama dan tumbuh bersama. Kami tidak berbeda, dan kami tidak perlu dibatasi oleh identitas apa pun.Karena setiap anak muda memiliki kesempatan untuk menemukan panggungnya sendiri. Dan Grup Musik Generasi Kedua Xin Xiangyang sedang menyanyikan jawaban mereka melalui satu lagu demi satu lagu: “Kami tidak berbeda dari siapa pun. Kami bisa seperti yang lain, sekaligus menciptakan jati diri yang unik.”Zhang Chenyu, Gao Zixuan, Hou Jinghan, dan Xiao Weizhan menambah pengalaman tampil melalui gitar dan vokal, sekaligus membangun kepercayaan diri serta kekompakan tim lewat kerja sama bermusik. (Foto/Asosiasi Xin Xiangyang Kota Tainan)Zhang Chenyu, Gao Zixuan, Hou Jinghan, dan Xiao Weizhan menambah pengalaman tampil melalui gitar dan vokal, sekaligus membangun kepercayaan diri serta kekompakan tim lewat kerja sama bermusik. (Foto/Asosiasi Xin Xiangyang Kota Tainan)
2026-10-07 09:00