按下ENTER到主內容區
:::

Puasa Intermiten Disebut Potensial Cegah Kanker

Puasa intermiten (ilustrasi). Yayasan Kanker Indonesia (YKI) mengungkapkan puasa intermiten disebut memiliki potensi sebagai salah satu cara mencegah risiko kanker.
Puasa intermiten (ilustrasi). Yayasan Kanker Indonesia (YKI) mengungkapkan puasa intermiten disebut memiliki potensi sebagai salah satu cara mencegah risiko kanker.

Berikut adalah hasil suntingan teks menjadi 250 kata dalam bahasa Indonesia, terbagi dalam dua paragraf:

Yayasan Kanker Indonesia (YKI) menyatakan bahwa puasa intermiten, yaitu pola makan dengan pembatasan waktu antara periode puasa dan makan, berpotensi mencegah risiko kanker. Meskipun demikian, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memahami sepenuhnya mekanisme dan efektivitasnya. Puasa intermiten bekerja dengan membatasi asupan kalori, memberi waktu tubuh untuk memperbaiki sel, dan mengurangi peradangan. Beberapa studi awal menunjukkan bahwa puasa ini dapat menurunkan kadar insulin dan IGF-1, yang berperan dalam pertumbuhan sel kanker. Ketua Umum YKI, Prof. Dr. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD-KHOM, menyarankan pola 16/8 (16 jam puasa dan 8 jam makan) atau diet OMAD (satu kali makan sehari) sebagai metode yang dapat diterapkan.Pola makan puasa intermiten dapat dilakukan secara bergantian selama 5 hari dalam seminggu.Pola makan puasa intermiten dapat dilakukan secara bergantian selama 5 hari dalam seminggu.

Puasa intermiten mendorong tubuh memanfaatkan sel-sel yang tidak berguna, termasuk sel beracun dan sel kanker awal, sebagai sumber energi. Dalam periode makan, penting mengonsumsi makanan bergizi seimbang, membatasi daging merah dan makanan ultra-proses. Aru menyarankan puasa intermiten dilakukan lima hari seminggu atau dengan jadwal fleksibel. Saat bulan Ramadan, ia menyarankan berbuka hanya dengan air putih dan makan besar setelah tarawih agar durasi puasa mencapai 16 jam. Pola ini diyakini bisa membantu mencegah pertumbuhan sel kanker sejak dini.

Berita Populer

回到頁首
Loading