Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) menyatakan bahwa sejak Israel melanjutkan operasi militernya di Gaza pada 18 Maret 2025, rata-rata 100 anak Palestina syahid atau terluka parah setiap hari. Situasi ini terjadi setelah gencatan senjata yang rapuh kembali gagal.
Direktur medis RS Al-Ahli Baptist di Gaza, Dr. Fadel Naim, menyebut rumah sakit tak mampu lagi menampung korban baru. Serangan udara Israel sejak dini hari Jumat (4/4) menewaskan sedikitnya 38 warga sipil.
Pemandangan memilukan terjadi di kamar jenazah, di mana keluarga mengambil jasad sanak saudara dari serangan di kawasan Shujaiyya. Suara ledakan terus bergema saat shalat jenazah dilaksanakan.
Di Gaza Selatan, eskalasi terus meningkat:
- Khan Younis: Dua orang terluka dalam serangan udara.
- Rafah: Jet tempur membombardir wilayah barat kota.
- Rekaman mengerikan memperlihatkan tubuh korban anak-anak terlempar akibat ledakan.
Komisioner Jenderal UNRWA, Philippe Lazzarini, mengutuk dampak yang tidak proporsional terhadap anak-anak dan menyebutnya &ldquokehancuran sistematis masa depan Gaza.&rdquo
Sementara itu, Departemen Luar Negeri AS menolak berkomentar soal dugaan penggunaan senjata AS oleh Israel. Liga Arab dijadwalkan menggelar sidang darurat pada 6 April untuk membahas krisis ini.
Dengan sistem kesehatan Gaza yang runtuh dan korban anak yang terus meningkat, krisis ini memasuki fase bencana kemanusiaan. Data PBB mencatat lebih dari 2.800 anak menjadi korban dalam 28 hari terakhir.