Toko Buku dan Kafe Hadir di Green Art Museum, Memadukan Seni, Membaca, dan Kehidupan Sehari-hari
Sejak resmi dibuka pada bulan Desember lalu, Green Art Museum Kota Taichung berkembang menjadi ruang budaya yang memadukan apresiasi seni dan kebiasaan membaca. Untuk memperkaya pengalaman pengunjung, ruang layanan publik museum kini menghadirkan toko buku seni Pon Ding dan kafe Pharos Coffee, menciptakan tempat di mana pameran, membaca, dan bersantai saling terhubung secara alami.Dinas Kebudayaan Pemerintah Kota Taichung menyampaikan bahwa Green Art Museum memiliki karakteristik sebagai gabungan museum seni dan perpustakaan umum. Kehadiran toko buku dan kafe bertujuan menjadikan seni dan membaca sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Toko buku Pon Ding berfokus pada kurasi publikasi seni tematik, sekaligus menghadirkan produk budaya dan desain yang selaras dengan gaya museum.Toko buku Pon Ding yang berfokus pada buku seni dan penerbitan independen hadir di ruang layanan publik Green Art Museum, menjadikan membaca sebagai jalur memahami seni. (Foto oleh Lin You-ren disediakan)Pharos Coffee yang terletak di lantai satu mengusung konsep “kopi dalam kehidupan”, menyajikan kopi single origin light roast, minuman espresso, dan roti handmade dan makanan ringan lainnya. Interiornya menggunakan furnitur dari tim desain Taiwan dan dilengkapi desain suara khusus oleh musisi synthesizer Nick Tsai, membentuk pengalaman multisensori. Nama “Pharos” berasal dari bahasa Yunani yang berarti “mercusuar”, melambangkan ruang singgah di tengah arsitektur museum yang terbuka dan mengalir.Direktur Museum Seni Kota Taichung, Lai Yi-hsin, menyatakan bahwa kehadiran Pon Ding dan Pharos Coffee memperkaya layanan publik museum dan sejalan dengan filosofi menjadikan seni bagian dari kehidupan dan membaca sebagai kebiasaan harian.Dinas Kebudayaan menambahkan bahwa melalui pengalaman membaca dan menikmati kopi, Green Art Museum kini menjadi basis budaya yang mendorong warga untuk berkunjung lebih lama, berinteraksi, dan datang kembali, menjadikan seni, buku, dan kopi sebagai bagian keseharian kota.